Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Isra Mikraj Tafsir Pilpres

Opini , Jurnalis-Kamis, 04 April 2019 |20:20 WIB
Isra Mikraj Tafsir Pilpres
Pemilu (Okezone)
A
A
A

Peristiwa Isra Mikraj dalam perjalanannya mengendarai buraq (kilat) dan ditemani malaikat Jibril yang berperan sebagai pemandu (guide) hingga langit ketujuh dan diajak ke pelbagai tempat melihat kehidupan lain (syurga) dan menyaksikan banyak peristiwa dan pembelajaran kelak bagi umatnya.

Tafsir Pilpres

Lalu apa pelajaran peristiwa Isra Mikraj dalam konteks dan tafsir pilpres ?. Dalam pandangan saya semua ajaran dan dogma agama yang melangit itu harus mampu dibumikan secara kontektual. Sebab sejatinya agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.

Dengan cara pandang itu, peristiwa Isra Mikraj harus dapat ditafsirkan tidak saja soal religiusitas-trasendental esoterik tetapi juga realistis-aktual dan profan. Dalam konteks itu sabda langit baru dapat mewujud dan berguna sebagai “hudan” petunjuk manusia dalam menjalani kehidupan dunia.

Pilpres adalah dunia profan, tidak transenden tapi nilai-nilai transendental atau ajaran langit haruslah menjadi nilai intrinsik dalam kehidupan dunia termasuk dalam soal pilpres. Pilpres harus diberi makna sebagai proses perjalanan menuju penjabaran ajaran-ajaran langit, dan sabda langit harus diupayakan membumi dalam proses pilpres sehingga menemukan titik taut erat antara langit dan bumi.

Apa saja tafsir pilpres atas peristiwa Isra Mikraj yang merupakan ajaran langit itu? Disini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yakni Pertama, Isra Mikraj diluar nalar manusia, yang berarti pilpres melahirkan kejutan-kejutan politik. Sandi dan Maruf sebagai pasangan Prabowo dan Jokowi tak dinyanah menjadi pasangan capres.

Sandi pilihan Prabowo membuyarkan dua calon unggulan dari kalangan ulama yang direkomendasikan oleh ijma ulama yaitu Ust. Abdul Shomad dan Ust. Salim Aljufri. Klaim capres pro ulama dan umat Islam menjadi kontra produktif dengan ditolaknya rekomendasi ulama dan justeru memilih bukan dari kalangan ulama dan bahkan dari satu partai yang sama walau Sandi kemudian menyatakan mundur.

Maruf juga demikian, cawapres yang tak disangka dan diumumkan namanya didetik terakhir atas pelbagai tekanan politik baik dari ormas NU maupun parpol pengusung. Nama yang santer disebut adalah Mahfud, MD yang sudah siap diumumkan namun gagal karena manuver dimenit terakhir para penyokong Jokowi.

Kedua, Isra Mikraj yang berarti “diperjalankan” dapat diberi makna bahwa capres tidak serta merta jadi dengan sendirinya, ada partai politik yang memperjalankan capres sehingga dapat mendaftar sebagai calon dan ditetapkan sebagai pasangan yang sah karena memenuhi persyaratan dan dukungan partai pengusung.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement