nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Krisis Venezuela Kembali Memanas Setelah Percobaan Kudeta Gagal

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 02 Mei 2019 08:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 02 18 2050441 krisis-venezuela-kembali-memanas-setelah-percobaan-kudeta-gagal-PBMeRrub7c.jpg

VENEZUELA - Krisis di Venezuela kian memanas seiring pertikaian politik antara Presiden Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi Juan Guaido meningkat menjadi ketegangan di antara faksi militer pendukung.

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido menyerukan serangkaian aksi demonstrasi sebagai bagian dari kampanye untuk memaksa Presiden Nicolas Maduro untuk melepaskan kekuasaan.

Dia mengatakan akan ada aksi protes setiap hari sampai Venezuela bebas.

Guaido berbicara kepada ribuan pengunjuk rasa yang kembali ke jalan-jalan, sehari setelah upaya untuk melakukan pemberontakan militer gagal.

 Baca juga: Presiden Venezula Maduro Tampil Bersama Menteri Pertahanan Usai Ada Upaya Kudeta

Di ibukota Caracas, bentrokan terjadi dengan polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet, sementara pengunjuk rasa menyerang kendaraan lapis baja dengan batu dan bom molotov.

Di tempat lain di kota itu ada demonstrasi pro-pemerintah.


Kudeta yang gagal

Presiden Venezuela Nicolás Maduro mengatakan dia telah mengalahkan "percobaan kudeta" oleh pemimpin oposisi Juan Guaido.

Lusinan Garda Nasional memihak oposisi dalam bentrokan pada hari Selasa (30/04) yang melukai lebih dari 100 orang.

Namun dalam pidato yang disiarkan di televisi, Presiden Maduro mengatakan Guaido telah gagal membuat militer menentangnya.

 Baca juga: Ada Upaya Kudeta, Venezuela Rusuh

Guaido bersikeras Maduro telah kehilangan kendali atas angkatan bersenjata. Dia menyerukan lebih banyak aksi demonstrasi di jalan.

"Hari ini kita lanjutkan," cuitnya melalui akun media sosial twitter.

"Kami akan terus berjalan dengan kekuatan lebih dari sebelumnya, Venezuela."

Guaido telah diakui sebagai pemimpin sementara Venezuela oleh lebih dari 50 negara, termasuk AS, Inggris dan sebagian besar di Amerika Latin.

AS mengulangi dukungannya untuk Guaido pada hari Rabu (01/05), ketika Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan "aksi militer dimungkinkan" jika perlu.

Namun Maduro, yang didukung oleh Rusia, Cina, dan pejabat tinggi militer negara itu, telah menolak menyerahkan kepemimpinan kepada saingannya.

Apa yang dikatakan Maduro?

Dalam pidatonya di televisi, diapit oleh komandan militer, Maduro menuduh para pemrotes "kejahatan berat" yang menurutnya "tidak akan luput dari hukuman".

Baik Maduro dan Guaido telah meminta para pendukung mereka untuk turun ke jalan, menyiapkan lebih banyak potensi kerusuhan dan kekerasan di negara yang sudah dilanda krisis ekonomi, pemadaman listrik kronis dan kekurangan pangan yang meluas.

Maduro menyerang lagi di Amerika Serikat, yang ia tuduh berkomplot melawannya. Dia menolak klaim oleh AS bahwa dia memiliki pesawat yang siap di landasan untuk membawanya ke Kuba, negara pendukung setia presiden yang terkepung itu.


Apa yang terjadi pada hari Selasa?

Sebuah video berdurasi tiga menit yang dirilis pada dini hari Selasa (30/04) menunjukkan Guaido berdiri bersama sejumlah pria berseragam militer. Dia mengumumkan bahwa dia mendapat dukungan "tentara pemberani" di ibu kota, Caracas.

 Baca juga: Pemimpin Oposisi Venezuela Klaim Dapat Dukungan Militer untuk Rebut Kekuasaan

Dia mendesak orang-orang Venezuela untuk bergabung dengan mereka di jalan-jalan, dan muncul bersama pemimpin oposisi lainnya, Leopoldo López, yang telah menjadi tahanan rumah sejak 2014.

Para pendukung di kedua pihak kemudian berkumpul di berbagai tempat di Caracas sepanjang hari, dan ada bentrokan antara pendukung Guaido dan kendaraan militer bersenjata.

Para pengunjuk rasa juga terlihat melemparkan batu, yang kemudian dibalas dengan gas air mata.

Bentrokan pada hari Selasa menandai episode paling ganas dari krisis politik Venezuela tahun ini. Para pejabat kesehatan Venezuela mengatakan 69 orang terluka dalam bentrokan itu, termasuk dua orang dengan luka tembak.


Bagaimana reaksi komunitas internasional?

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengimbau kedua belah pihak untuk menghindari kekerasan.

Sementara itu, AS menegaskan kembali dukungannya untuk Guaido. Dalam sebuah wawancara televisi pada hari Rabu, Pompeo mengatakan Washington akan lebih memilih transisi kekuasaan secara damai tetapi menyatakan bahwa "aksi militer mungkin dilakukan".

"Jika itu yang diperlukan, itulah yang akan dilakukan Amerika Serikat," kata Menlu AS.

Presiden Donald Trump mengatakan dia sedang memantau peristiwa di Venezuela "sangat dekat" dan mengatakan AS berdiri dengan rakyat Venezuela dan kebebasan mereka.

Dia juga mengancam akan menerapkan "sanksi tingkat tertinggi" dan "embargo penuh dan lengkap" terhadap Kuba jika militernya tidak segera menghentikan dukungannya kepada Maduro.

Sementara itu, Rusia memperingatkan Amerika Serikat akan apa yang disebutnya sebagai tindakan agresif Amerika di Venezuela dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Menteri luar negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan kebijakan Amerika di Venezuela adalah pelanggaran hukum internasional.

Pemerintah yang masih mendukung Maduro, termasuk Bolivia dan Kuba, mengecam upaya Guaido sebagai upaya "kudeta".

Pemerintah Meksiko menyatakan "keprihatinan tentang kemungkinan peningkatan kekerasan" sementara Presiden Kolombia Ivan Duque mendesak militer Venezuela untuk berdiri "di sisi kanan sejarah" melawan Maduro.

Pertemuan darurat Kelompok Lima negara-negara Amerika Latin dijadwalkan digelar Jumat (03/05).

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini