nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terlibat Kasus Tawuran, Bocah ABG Diduga Mengalami Penganiayaan di Polsek Ciputat

Hambali, Jurnalis · Selasa 14 Mei 2019 00:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 13 338 2055265 terlibat-kasus-tawuran-bocah-abg-diduga-mengalami-penganiayaan-di-polsek-ciputat-6cLPgO0zFT.jpg Unjuk Rasa Orangtua di Depan Polres Tangsel, Seorang Bocah ABG Berinisial AS Diduga Mengalami Penganiayaan saat Ditahan di Polsek Ciputat, karena Kasus Tawuran (foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN - Sita Rosmalina, menyampaikan orasinya di depan gerbang Mapolres Tangerang Selatan, Jalan Promoter, Serpong, Senin (13/5/2019) sore. Dengan wajah penuh amarah, dia meminta agar sejumlah oknum polisi di Mapolsek Ciputat diperiksa terkait penganiayaan putranya berinisial AS (16), di dalam sel tahanan.

Sita menuturkan kepada Okezone, jika AS mengalami penganiayaan keji oleh oknum polisi dan beberapa penghuni tahanan lainnya. Disebutkan ada kekerasan fisik yang dialami, hingga membuat tulang rusuk anaknya itu terasa retak.

Baca Juga: Polisi Tangkap 5 Anggota Geng Motor yang Tewaskan Pelajar di Jagakarsa 

"Waktu pertama saya besuk, kondisi anak saya benar-benar tertekan. Dia juga mengadu, kalau mengalami kekerasan fisik, ada luka-luka. Dia selalu memegangi tulang rusuknya, mungkin retak atau patah," katanya.

Unjuk Rasa Orangtua di Depan Polres Tangsel, Seorang Bocah ABG Berinisial AS Diduga Mengalami Penganiayaan saat Ditahan di Polsek Ciputat, karena Kasus Tawuran (foto: Hambali/Okezone)	 

Bahkan kekerasan terhadap AS juga berlangsung saat menjalani penahanan di Mapolsek Ciputat. Di sana, ada dua orang penghuni tahanan lama yang memegangi kedua kaki dan tangannya, sedangkan satu tahanan lainnya mengarahkan tetesan plastik yang dibakar ke sekujur tubuh AS.

"Dia dipegangi dua orang, kakinya ditetesin plastik panas dan ada bekasnya, itu saya sudah lengkap, ini ada buktinya. Jadi saya menuntut keadilan saja, saya sebagai ibu kandungnya. Kewajiban saya melindungi anak saya, apapun salah anak saya tetap harus diperlakukan manusiawi, sesuai aturan," jelasnya lagi.

AS dan 14 rekannya yang merupakan Anak Baru Gede (ABG) diciduk polisi lantaran terlibat dalam tawuran berdarah di wilayah Maruga, Ciputat, Tangsel, beberapa waktu lalu. Tawuran itu menyebabkan seorang meninggal dunia akibat tusukan senjata tajam. Setelah proses penyidikan, dari 14 remaja hanya 5 orang yang pemeriksaannya berlanjut, termasuk AS.

Lebih lanjut dijelaskan pihak keluarga, sebenarnya penganiayaan atas AS itu telah dilaporkan kepada SPK Polsek Ciputat. Namun karena berbagai alasan, laporan tak dapat ditindaklanjuti. Hingga selanjutnya, ibu korban mengadu ke Mapolres Tangsel. Meskipun sempat diterima petugas, lagi-lagi laporan penganiayaan tak bisa diproses.

"Sudah lapor ke Polsek, tapi nggak bisa di sana. Terus lapor ke Polres, di sini diterima, tapi akhirnya nggak bisa diproses juga karena alasannya si korban (AS) harus datang langsung, sedangkan dia kan sudah ada di tahanan kejaksaan," keluh Sita.

Masih kata Sita, banyak prosedur yang sepertinya diabaikan petugas dalam menindaklanjuti kasus yang dialami anaknya. Yang paling mendasar adalah pihak orang tua tidak pernah menerima surat perintah penangkapan, surat perintah penahanan, serta Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

"Enggak ada surat-surat itu, padahal setahu kita itu wajib diberikan sesuai KUHAP," sambungnya.

Unjuk Rasa Orangtua di Depan Polres Tangsel, Seorang Bocah ABG Berinisial AS Diduga Mengalami Penganiayaan saat Ditahan di Polsek Ciputat, karena Kasus Tawuran (foto: Hambali/Okezone)	 

Saat berunjuk rasa di depan Mapolres Tangsel, pihak keluarga AS turut didampingi pula oleh mahasiswa dan sejumlah aktivis. Mereka mendesak, bahwa kesewenangan yang dilakukan oknum polisi maupun tahanan di Mapolsek Ciputat telah menciderai perundang-undangan, khususnya UU Nomor 11 tahum 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

"Kami membentuk aksi solidaritas ini, mendesak agar profesionalitas polisi ditegakkan. Kami meminta agar Kapolsek Ciputat selaku pimpinan dicopot, dan oknum polisi yang melakukan tindak penganiayaan itu diperiksa," tegas Rijalu Jaman, Kordinator massa aksi di lokasi.

Baca Juga: Penganiayaan yang Tewaskan Pelajar di Jagakarsa Berawal dari Saling Ejek di Medsos 

Sementara saat dikonfirmasi, Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan, mengatakan, jika pihaknya akan menindak lanjuti laporan itu. Namun begitu, tudingan soal penganiayaan harus dapat dibuktikan dan dilaporkan kepada Propam guna penyelidikan lebih lanjut.

"Akan kita cek," ucap Ferdy.

(fid)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini