Prabowo Tolak Hasil Pilpres, Dedi Mulyadi: Berarti Juga Tolak Pileg 2019

Mulyana, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 09:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 16 605 2056330 prabowo-tolak-hasil-pilpres-dedi-mulyadi-berarti-juga-tolak-pileg-2019-10mpwnf4ID.jpg Dedi Mulyadi. (Dok Okezone/Heru Haryono)

PURWAKARTA – Suhu politik pasca-Pemilu 2019 masih terasa hangat. Hingga kini, para peserta Pilpres maupun Pileg masih harap-harap cemas menunggu hasil akhir penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Khusus di Pilpres 2019, seperti yang diberitakan di sejumlah media massa, kubu 02 atau pasangan Prabowo-Sandiaga menolak hasil penghitungan dari lembaga penyelenggara pemilu itu.

Ketua Tim Kampanye Daerah Ma'ruf-Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi berkomentar mengenai sikap penolakan kubu Prabowo terkait hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Menurutnya, jika ada penolakan hasil pemilu, berarti juga tidak mengakui perolehan suara calon legislatif semua partai, termasuk dari Gerindra.

"Pemilu 2019 itu dilaksanakan satu paket kegiatan oleh KPU, yakni Pilpres dan Pileg. Jadi, ketika hasil pemilu itu dianggap curang, maka pemahaman itu berlaku paralel, bukan hanya hasil Pilpres," ujar Dedi dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Kamis (16/5/2019).

Ia menilai, pengakuan atau penolakan terhadap hasil pemilu berarti penolakan terhadap satu paket kegiatan. Bukan hanya penolakan terhadap hasil pilpres, tetapi juga hasil pemilihan DPD dan anggota legislatif dari pusat sampai daerah.

Ilustrasi. (Ist)

"Berarti konsekuensinya, menolak hasil pileg di berbagai daerah juga," katanya.

Menurut Dedi, kalau yang ditolaknya hanya pemilihan presiden, sedangkan pemilihan legislatif diterima maka itu disebut ambivalen, dan membingungkan.

Dedi mengibaratkan pemilu itu seperti sambal. Bahan gula, cabai, garam, dan terasi sudah diulek itu namanya sambal. Rasa terasi dan gula sudah tidak bisa dipilah. Jadi, kata dia, kalau dikatakan terasinya tidak enak, berarti itu sambal memang tidak enak.

"Kalau dianggap pemilu curang, berarti pileg juga curang. Kalau pileg curang, berarti mereka yang mengalami peningkatan suara legislatif hari ini diperoleh dari hasil kecurangan. Kan konsekuensinya itu," kata Dedi.

Ia menyindir sikap kubu Prabowo yang bahagia suara partainya mengalami peningkatan. Bahkan, kata dia, mereka sudah mengakui terlebih dahulu dan mengumumkan bahwa partainya di kabupaten atau kota ini mendapat sekian kursi, provinsi sekian kursi dan DPR RI meraih sekian kursi. Bahkan, menurut Dedi, sebagian dari mereka sudah ada yang menggelar syukuran.

Dedi Mulyadi. (Mulyana)

"Saat KPU mengesahkan hasil pileg, semuanya bahagia. Bahkan, banyak yang sudah syukuran. Tapi giliran pilpres menolak, ya enggak bisa. Harus konsisten, kalau menolak pilpres, ya menolak pileg juga. Tidak bisa sepotong-sepotong," kata Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini.

Dedi mengatakan, dalam pemilu itu terdapat aspek logis, yakni calon presiden memiliki dampak elektoral terhadap partai pengusung. Misalnya, di daerah ketika Jokowi-Ma'ruf menang, maka suara PDIP mengalami kemenangan.

"Itu sebelumnya sudah diprediksi oleh riset yang diumumkan lembaga survei. Ada efek elektoral yang akan ditimbulkan pilpres. Yang paling menikmati kan PDIP dan PKB. Sementara Golkar hanya bisa bertahan. Kita terima itu sebagai sebuah konsekuensi dalam berpolitik," katanya.


Baca Juga : Prabowo Tolak Hasil Penghitungan Suara karena Dinilai Banyak Kecurangan

Lalu di daerah di mana Prabowo-Sandi menang, maka yang menikmati efek elektoralnya, yaitu Gerindra, PKS, dan PAN. Setidaknya, PAN bisa lolos melampaui ambang batas dalam Pemilu 2019.

"Dari situ sudah jelas bahwa aspek riset itu terbukti dalam fakta-fakta politik. Pak Prabowo memang dalam hitungan sampai hari ini tidak berhasil, tapi partainya mengalami peningkatan yang signfikan," kata Dedi.

"Kan betul, setidaknya pencalonan Prabowo memberikan efek positif bagi Gerindra, dan PKS mampu memanfaatkannya. Misalnya di Jawa Barat, Gerindra menikmati kemenangan dari efek Prabowo," katanya.


Baca Juga : Prabowo Tolak Hasil Pilpres, Ini Reaksi Jokowi

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini