nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

MER-C Beberkan Bukti Peluru yang Ditemukan Tim Medis dalam Aksi 22 Mei

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Sabtu 25 Mei 2019 13:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 25 337 2060284 mer-c-beberkan-bukti-peluru-yang-ditemukan-tim-medis-dalam-aksi-22-mei-KhRqoIAohQ.jpg MER-C Beberkan Bukti Peluru yang Ditemukan Tim Medis dalam Aksi 22 Mei (foto: Sarah Hutagaol/Okezone)

JAKARTA - Pihak Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyayangkan adanya tindak kekerasan yang dilakukan terhadap tim medis dan massa aksi dalam demonstrasi yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 di depan Gedung Bawaslu RI.

Joserizal Jurnalis selaku Pendiri dan Dewan Penasihat MER-C menjelaskan bahwa dalam Konvensi Geneva dalam kondisi perang sekalipun tim medis merupakan salah satu pihak yang seharusnya dilindungi oleh aparat kepolisian.

Baca Juga: Tim Medis Dompet Dhuafa Dianiaya Aparat, Polri: Kuncinya Kurang Komunikasi 

"Konvensi Jenewa dibuat untuk atur peperangan bayangin, kekerasan yang harus terjadi tapi tetap diatur. Ambulan tak boleh diserang, petugas medis tak boleh diserang, di situ poinnya," ujar Jose saat ditemui di kantornya, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5/2019).

Aksi 22 Mei: Bentrok Massa Aksi dengan Polisi di Depan Gedung Bawaslu 

Namun nahasnya, dalam aksi demonstrasi kemarin pihaknya justru mendapati kalau tim medis menemukan adanya peluru tajam yang diambil dari salah satu pasien, serta juga ditemukan oleh relawan medis di lapangan.

Dalam konferensi pers, Jose memperlihatkan beberapa barang bukti peluru di hadapan para awak media. Peluru-peluru tersebut ada yang bersifat tajam, dan juga yang berbahan karet.

"Ini sekarang kita lihat dia gunakan peluru tajam, ini belum ditembakkan ini. Ini peluru karet dan timah. Dan selongsongnya karet. Ini Diambil dr pasien operasi, dan satu lagi dari relawan," paparnya.

Baca Juga: Dompet Dhuafa Sesalkan Penyerangan Tim Medisnya dalam Aksi 22 Mei 

Jose pun mengimbau kepada pihak kepolisian untuk tidak lagi mengatur jalannya aksi demonstrasi seperti yang terjadi kemarin dengan melakukan perlawanan secara militer.

"Prosedur polisi itu, kita ambil dalam situasi perang titik kelola kita apalagi demo, demo itu tingkat ringan, bukan perlawanan militer. Cara pikir begitu," tutur Jose.

 

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini