"Golkar bukan berdasarkan hubungan darah. Saya jadi Ketua KPPG, sayap partai, tapi saya bukan anak atau istri ketua umum."
"Tapi orang terdekat pasti juga diberikan motivasi untuk masuk. Anak saya misalnya, alumni perguruan tinggi luar negeri, berminat ke politik, tidak salah kalau saya tawarkan ke Golkar," tutur Hetifah.
Hurriyah, Wakil Direktur Puskapol UI mengatakan tantangan yang dihadapi para caleg yang memiliki hubungan kekerabatan ini adalah untuk menunjukkan bahwa mereka dapat menjaga konstituen mereka.
"Sejauh mana mereka bisa mempertahankan dukungan politik dan merawat jaringan konstituen bisa jadi tolak ukur lepas dari bayang-bayang kekerabatan," ujar Hurriyah.
Dan caleg baru Golkar, Dyah Roro Esti bertekad untuk mengikis beragam stigma yang muncul terkait politik kekerabatan ini. Ia berharap masuk ke Komisi VII agar bisa bekerja sesuai keilmuannya.
"Bagus jelek politik, tergantung orang yang menjalankannya. Banyak politikus baik, yang bekerja. Politikus itu perlu ditonjolkan untuk mengubah stigma politik kotor," ujar Esti.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.