nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sore Ini, KPK Umumkan Tersangka Baru Kasus Korupsi Rugikan Negara hingga Triliunan Rupiah

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 10 Juni 2019 11:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 10 337 2064880 sore-ini-kpk-umumkan-tersangka-baru-kasus-korupsi-yang-rugikan-negara-hingga-triliunan-rupiah-uV5UyF2akj.jpg KPK

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana mengumumkan tersangka baru terkait kasus dugaan korupsi yang merugikan negara cukup besar, pada sore ini. Dalam kasus tersebut, negara dirugikan hingga triliunan rupiah.

"Direncanakan sore ini akan kami umumkan penyidikan baru yang telah dilakukan KPK dalam sebuah perkara yang merugikan negara cukup besar dengan nilai triliunan rupiah," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (10/6/3019).

Febri masih enggan menjelaskan secara detail tersangka baru dalam kasus apa yang akan diumumkan pada sore ini. Namun, dipastikan Febri, pengumuman tersangka baru pada sore ini merupakan pengembangan dari kasus yang sebelumnya.

 Baca juga: Mahfud MD: Ada yang Bertanya Buat Apa Pancasila kalau Masih Banyak Korupsi?

"Penyidikan ini merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya yang ditangani KPK. Kami berupaya semaksimal mungkin menjalankan tugas dan mengembalikan kerugian keuangan negara ke masyarakat melalui kewenangan yang ada," terangnya.

Disinyalir, KPK akan mengumumkan tersangka baru terkait kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terhadap pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI).

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata mengakui bahwa pihaknya telah menetapkan pemegang saham BDNI, Sjamsul Nursalim sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi penerbitan SKL BLBI.

 Baca juga: 3 Terpidana Korupsi Genset RSUD Banten Dijebloskan ke Penjara

Penetapan tersangka terhadap Sjamsul Nursalim dilakukan setelah pimpinan melakukan gelar perkara terkait hasil pengembangan perkara terpidana mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temanggung. Hasil gelar perkara, status Sjamsul Nursalim telah naik ke penyidikan.

"Ya sudah (tersangka)," singkat Alexander saat dikonfirmasi awak media ‎soal status tersangka Sjamsul Nursalim, di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Mei 2019.

Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim diketahui sudah dua kali mangkir alias tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksa dalam proses penyelidikan perkara korupsi penerbitan SKL BLBI. Pasangan suami-istri tersebut disinyalir saat ini sedang berada di Singapura.

Dalam perkara ini, KPK baru menjerat satu orang sebagai tersangka yakni, Syafruddin Arsyad Temenggung. Syafruddin merupakan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang telah divonis bersalah dalam kasus ini.

 Baca juga: Dugaan Korupsi Pengadaan Traktor, Komjak: Harus Diproses demi Kepastian Hukum

Syafruddin diganjar hukuman 15 tahun pidana penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 3 bulan kurungan oleh Pengadilan Tinggi DKI dalam putusan banding.

Majelis hakim meyakini Syafruddin terbukti bersalah karena perbuatannya melawan hukum. Dimana, menurut hakim, Syafruddin telah melakukan penghapusbukuan secara sepihak terhadap utang pemilik saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Sjamsul Nursalim tahun 2004.

Padahal, dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, tidak ada perintah dari Presiden M‎egawati Soekarnoputri untuk menghapusbukukan utang tersebut.

Dalam analisis yuridis, hakim juga berpandangan bahwa Syafruddin telah menandatangi surat pemenuhan kewajiban membayar utang terhadap obligor BDNI, Sjamsul Nursalim. Padahal, Sjamsul belum membayar kekurangan aset para petambak.

Syafruddin juga terbukti telah menerbitkan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) kepada Sjamsul Nursalim. Penerbitan SKL BLBI itu menyebabkan negara kehilangan hak untuk menagih utang Sjamsul sebesar Rp4,58 triliun‎.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini