nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berbeda Etnis, Dua Musuh dalam Perang Sipil Sri Lanka Jatuh Cinta dan Menikah

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 13 Juni 2019 22:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 13 18 2066172 berbeda-etnis-dua-musuh-dalam-perang-sipil-sri-lanka-jatuh-cinta-dan-menikah-mAb05xtHX7.jpg Gauri, Roshan dan putri mereka Senuli. (Foto: BBC)

MELIHAT Gauri Malar dan Roshan Jayathilake bermain dengan putri mereka yang berusia 11 bulan, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa 10 tahun lalu keduanya adalah musuh dalam medan peperangan.

Gauri yang berusia 26 tahun merupakan seorang tentara anak kelompok separatis Macan Tamil, Mereka bertempur melawan rezim pemerintah Sri Lanka yang menindas dan didukung oleh orang-orang seperti Roshan.

“Saya tidak pernah bertemu Sinhala atau berbicara dengan mereka,” kata Gauri yang bertenis Tamil, merujuk pada etnis Sinhala yang merupakan penduduk mayoritas Sri Lanka. "Kami pikir mereka adalah orang jahat dan akan membunuh kami."

Bagi Roshan, para pemberontak merupakan musuh yang dibenci. Kelompok separatis Tamil melakukan kampanye pengeboman yang merenggut nyawa orang-orang tak berdosa selama 26 tahun perang saudara.

“Kami saling melihat mereka sebagai musuh” kata pria berusia 29 tahun itu dalam sesi Crossing Divides BBC, yang menceritakan kisah orang-orang yang bertemu dari sisi dunia yang berbeda.

“Akan tetapi sekarang kami menikah dengan bahagia. Putri kami merupakan simbol dari cinta kami.”

Apa yang membawa perubahan sehingga kini Gauri dan Roshan saling berbagi mimpi, berusaha membina kehidupan bersama seperti membangun rumah, membeli mobil dan menyekolahkan putri mereka, Senuli Chamalka.

Konflik Sri Lanka kembali memanas ketika separatis yang Tamil marah karena meningkatnya nasionalisme di pihak Sinhala melakukan serangan yang menewaskan 13 tentara Sri Lanka pada 1983.

Insiden tersebut memicu kerusuhan anti-Tamil, yang menyebabkan ratusan anggota kelompok etnis minoritas tewas.

Konflik tersebut selalu hadir di kehidupan Gauri, namun semua itu berubah pada Januari 2009, ketika dia diberi tahu bahwa traktor yang dikemudikan oleh kakak lelakinya yang bernama Subramaniyam Kannan, telah tertembak oleh artileri.

Meriam tersebut ditembakkan dari daerah yang dikontrol oleh pemerintahan yang berdekatan dengan markas Macan Tamil di Vishwamadu, utara Sri Lanka.

Saat mencari kakak laki-lakinya, Gauri yang saat itu berusia 16 tahun ditangkap kelompok pemberontak tersebut dan dilatih menjadi tentara dengan mengirimnya ke medan pertempuran setiap pekan.

“Saya melihat orang-orang yang ditembak dan dibunuh” kata Gauri. “Salah satu teman saya terkena bom. Kami mencoba untuk menolongnya namun dia sudah menguyah kapsul sianida, dan berkata bahwa dia sudah terluka sangat parah dan tidak bisa diselamatkan.

“Kita tidak dapat mandi, dan tidak ada makanan yang layak. Pada saat itu saya bertanya apa tujuan dari hidup.” Kata Gauri

Sementara bagi Roshan, peperangan dimulai pada 2004 saat serangan bom pemberontak mengganggu acara Tahun Baru Hindu Sinhala di desa keluarganya di Distrik Vavuniya yang dikuasai separatis.

Roshan yang berusia 14 tahun marah akan pengeboman yang membunuh masyarakat dan tentara sehingga dia mengikuti jejak ayahnya dan saudara-saudaranya untuk bergabung di Departemen Keamanan Sipil.

“Hampir setiap hari kita mendengar kabar tentang serangan,” kata dia sambil menambahkan bahwa dia kehilangan salah satu saudaranya dalam pertempuran. “Orang-orang sangat ketakutan. Keluarga tidak berpergian bersama karena takut akan dibunuh.”

Sebanyak 100.000 orang berpikir bahwa dirinya akan dibunuh sebelum konflik yang usai pada tahun 2009.

Pada 2015, PBB menuduh bahwa kedua belah pihak melakukan pembunuhan yang tidak dibenarkan dalam perang. PBB menyatakan pasukan keamanan Sri Lanka bertanggung jawab akan kejahatan yang mereka lakukan termaksud menyiksa dan kekerasan seksual, dan pasukan pemberontak mengirim anak-anak dan orang dewasa untuk bertempur.

Gauri bertempur lebih dari 1 bulan sebelum komandannya menyadari bahwa dia memiliki penyakit jantung dan membebaskannya. Setelah itu dia menyerahkan diri pada tentara Sri Lanka.

Dia merupakan salah satu dari mantan pasukan pemberontak yang dimasukkan ke program rehabilitasi pemerintahan.

Meskipun sudah diyakinkan tentang alasan perjuangan separatisme, setelah menghabiskan waktu bersama orang-orang Sinhala, Gauri menyadari bahwa mereka adalah manusia, sama sepertinya. Akhirnya dia bergabung dengan departemen keamanan sipil.

Pihak yang berwenang menyiapkan ladang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bagian utara dan salah satunya di Udayankattu yang merupakan tempat Gauri bertemu dengan Roshan, calon suaminya.

Ketika Gauri ditempatkan di sana pada tahun 2013, Roshan selalu ada untuknya selama setahun. Dia sangat sedih karena tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat Tamil.

Bekerja sama dengan Gauri yang menjadi penerjemahnya telah mengubah hidup Roshan.

“Dia pasti merasa kesepian” kata Gauri. “Saya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja, jadi saya membawakannya makanan buatan saya.”

Akhirnya, perasaan mereka pun menjadi jelas.

“Saya mencintai dirinya lebih dari ibunya pernah lakukan” kata Gauri.

“Ketika saya pergi, Gauri menangis,” kata Roshan. “dia bahkan ingin memastikan bahwa dia punya uang yang cukup.”

Saat mengumumkan hubungan mereka ke publik, mereka menerima prasangka yang mewakili komentar dari saudara kerabat Roshan yang mengatakan: “Ada banyak gadis Sinhala mengapa kamu menginginkan orang Tamil?”

Ibu Roshan menentang pernikahan tersebut, saudara perempuan Gauri yang merupakan seorang mantan milisi Macan Tamil memiliki pikiran yang sama bahwa menikahi pria Sinhala akan membawanya jauh dari komunitas dan laki-laki tersebut akan menyiksanya.

Mereka memenangkan hati dari setiap pihak keluarga dengan menunjukkan bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain dengan kasih sayang dan hormat.

“Akhirnya semuanya menjadi lebih baik” kata Gauri, sambil menambahkan bahwa ibu Roshan yang telah meninggal dunia sangat senang dengan kedatangan Senuli Chamalka.

“Malaikat kecil kami membuat kami lebih dekat lagi” kata Gauri.

Saat ini pasangan tersebut hidup dengan keluarga Gauri dan dia memberitahu Roshan bahwa dia telah menjadi menantu laki-laki kesukaan saudarinya.

Pasangan tersebut menikah pada 2014 dan membawa Senuli Chamalka ke kuil Hindu dan Buddha. Bagi mereka perbedaan merupakan sebuah masa lalu.

Namun, setelah terjadinya serangan Minggu Paskah yang menewaskan 250 orang lebih, dan serangan balasan dari Anti-Muslim, membuat pasangan itu khawatir akan perbedaan ini bisa membuat Sri Lanka kembali jatuh dalam konflik.

“Perang tidak hanya akan menewaskan satu pihak saja” kata Gauri. “Banyak yang tewas terlepas dari etnis maupun agama mereka.”

“Kita tidak perlu peperangan lainnya lagi”

(Nico Wijaya)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini