'Kami perlu hidup dengan damai'
Masalah serupa muncul di Aksum sekitar 50 tahun yang lalu ketika Kaisar Haile Selassie berkuasa di Ethiopia.
Pemimpin kota saat itu, anggota keluarga kerajaan, melakukan kompromi yang mengizinkan warga Muslim membangun masjid 15km jauhnya di kota Wukiro-Maray.

Dalam kunjungan ke kota itu, yang juga memiliki populasi mayoritas Kristen, saya bertemu dengan Keria Mesud yang memasak untuk para Muslim yang sedang beribadah.
Menunjuk lima masjid yang kini hadir di Wukiro-Maray, Keriya berkata: "Meskipun kami membutuhkan masjid di Aksum, kami tidak bisa memaksa mereka. Yang kami perlukan ialah hidup dalam damai."
Godefa mengatakan kedua komunitas memang hidup dengan damai. Dia menambahkan bahwa orang-orang dari dua kepercayaan Abrahamik itu punya banyak kesamaan.
Sahabatnya adalah Muslim, ujarnya, dan mereka pergi bersama ke pernikahan, pemakaman, dan acara-acara lain.
'Hanya nyanyian Kristen'
Godefa percaya bahwa Muslim dari wilayah lain Ethiopia berada di balik kampanye untuk membangun masjid.
Tapi ia berjanji bahwa para pemeluk Kristen Ortodoks tidak akan pernah melanggar janji ayah dan kakek mereka untuk mempertahankan "kesucian" Aksum.
"Jika ada yang membangun masjid, kami akan mati. Itu tidak pernah diizinkan, dan kami tidak akan mengizinkannya terjadi selama kami hidup. Buat kami, itu berarti mati."
"Kita harus hidup dengan saling menghormati, seperti yang telah kita lakukan selama berabad-abad."
Secara khusus, Kristen Ortodoks percaya bahwa hanya nyanyian dan doa Kristen yang boleh terdengar di dalam kota, yang menurut mereka dibangun 7.500 tahun lalu, karena Tabut Perjanjian.
Pendeta Kristen Amsale Sibuh menjelaskan: "Agama yang tidak menerima kelahiran Kristus, baptis, penyaliban, kematian, dan kebangkitannya kembali tidak bisa eksis di tempat adanya Tabut Perjanjian. Kalau siapapun melanggar ini, kami akan menebusnya dengan nyawa kami."
Para pejabat di pemerintahan kota menolak berkomentar; mereka hanya berkata bahwa pengikut dua kepercayaan itu hidup berdampingan dengan damai.
Banyak yang berharap bahwa seperti halnya pemerintahan Kaisar Haile Selassie, pemerintahan yang sekarang – dipimpin oleh Perdana Menteri Abiy Ahmad, yang ayahnya Muslim dan ibunya Kristen – akan menjadi perantara untuk mempertahankan reputasi Aksum sebagai tempat yang damai.
Bagaimanapun, para Muslim tampaknya bertekad untuk meneruskan tuntutan mereka.
Organisasi yang terdiri dari ulama-ulama Muslim berpengaruh di wilayah itu – Dewan Regional Muslim – berkata mereka berniat mengadakan diskusi dengan warga Kristen dalam upaya membujuk mereka untuk mengizinkan pembangunan masjid di Aksum.
"Komunitas Muslim dan Kristen harus mencapai kata sepakat dan dan kita perlu umat Kristen juga membantu membangun masjid itu," kata anggota dewan Mahammad Kahsay.
(Qur'anul Hidayat)