nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wonogiri Ajak Karanganyar dan Solo Rumuskan Kebijakan Setop Warung Olahan Daging Anjing

Agregasi Solopos, Jurnalis · Minggu 14 Juli 2019 03:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 14 512 2078559 wonogiri-ajak-karanganyar-dan-solo-rumuskan-kebijakan-setop-warung-olahan-daging-anjing-xciK8jCI8L.jpg Warung Olahan Daging Anjing di Jalan Lalung-Bekonang, Karanganyar, Jawa Tengah (Solopos/Wahyu Prakoso)

WONOGIRI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri mengajak Pemkab Karanganyar dan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo merumuskan kebijakan untuk memutus distribusi anjing. Sebab, kini marak warung satai yang menggunakan olahan daging anjing.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, saat ditemui Solopos seusai mengikuti kegiatan di Ngambarsari, Karangtengah, Wonogiri, memastikan akan mengatasi masalah tingginya populasi anjing di Wonogiri yang akhirnya justru dimanfaatkan untuk usaha.

Baca Juga: Masih Jadi Polemik, Pedagang Satai Gukguk di Karanganyar Pilih Tutup Sementara Warung 

Namun, Pemkab tak bisa menyelesaikannya sendiri. Bupati yang akrab disapa Jekek itu memandang akan percuma apabila Pemkab Wonogiri berupaya mengatasi masalah itu tetapi permintaan dari daerah sasaran distribusi tetap melimpah.

Pedagang Sate Anjing Temui Bupati Karanganyar Juliyatmono Membahas Soal Rencana Penutupan Warung dan Alih Profesi (foto: Bramantyo/Okezone)	 

Sebaliknya, bakal tak efektif pula jika daerah sasaran distribusi, seperti Karanganyar dan Solo, berusaha menyetop distribusi, tetapi di sisi lain daerah pemasok tak berupaya menekan populasi anjing.

“Anjing dijadikan sumber ekonomi karena ada permintaan. Pasti ada orang yang memanfaatkan kondisi ini (populasi anjing di Wonogiri tinggi). Menyelesaikan masalah ini tidak bisa hanya dilakukan satu pihak. Kami akan undang (Pemkab) Karanganyar dan (Pemkot) Solo untuk duduk bersama merumuskan kebijakan,” kata Bupati.

Dia juga berencana mengundang penjual makanan olahan daging anjing, pengepul, atau pihak lainnya yang berhubungan dengan bisnis penjualan anjing. Bupati menilai perlu ada pendampingan atau pembinaan terhadap mereka, setidaknya untuk memberi pemahaman mengenai konsekuensi yang harus ditanggung jika menjual anjing atau makanan olahan daging anjing.

Daging anjing sejatinya bukan untuk dikonsumsi manusia. Mengonsumsi daging anjing berpotensi berdampak buruk pada kesehatan. Pada tataran agama tertentu, mengonsumsi daging anjing bertentangan dengan keyakinan.

“Oleh karena itu ke depan kami akan melibatkan berbagai pihak karena masalah ini tak hanya di tataran bisnis,” imbuh Bupati.

Seperti diketahui, pemilik warung makan olahan daging anjing di Kecamatan Wonogiri, Sunarno (41), sebelumnya menyebut Wonogiri sudah lama menjadi pemasok anjing kampung ke Solo dan Karanganyar. Kecamatan pemasok terbesar meliputi Karangtengah dan Paranggupito.

Hal itu lantaran banyak warga, terutama di dua kecamatan tersebut, yang memelihara anjing kampung. Awalnya mereka memelihara anjing untuk mengusir kera liar dan babi hutan yang kerap merusak tanaman pangan di ladang.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini