Berhasil Kembangkan Benih Padi Unggul, Kades di Aceh Ini Malah Jadi Tersangka

Windy Phagta, Okezone · Kamis 25 Juli 2019 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 25 340 2083460 berhasil-kembangkan-benih-padi-unggul-kades-di-aceh-ini-malah-jadi-tersangka-fzK1H4Hz8A.jpg Munirwan saat menerima penghargaan berkat keberhasilan mengembangkan benih padi unggul. (Foto: dokumen pribadi)

BANDA ACEH - Kepala Desa Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, Teungku Munirwan, ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh setelah dilaporkan karena Badan Usaha Milik Desa (BUMD) yang dipimpinnya menjual bibit padi unggul IF8 tanpa label hasil pengembangan mereka sendiri.

"Beliau (Munirwan) ditahan di Polda Aceh sejak Selasa 23 Juli 2019. Ditahan sebagai Direktur PT Bumades Nisami yang ditetapkan menjadi tersangka karena memproduksi dan menjual bibit padi tanpa label. Kasus itu dilaporkan pihak Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh ke Polda Aceh," ujar Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, Kamis (25/7/2019).

Zulfikar yang bertindak sebagai pendamping Munirwan mengaku sedang melakukan proses pengajuan permohonan penangguhan penahanan tersangka.

Menurutnya ada beberapa pertimbangan pihaknya mengajukan penangguhan penahanan terhadap Munirwan. "Pertama, karena Beliau kepala desa yang harus menjalankan kewajibannya. Kedua Beliau juga guru ngaji di desanya. Ketiga ibu kandungnya akan menunaikan ibadah haji sehingga tidak ada orang yang menjaga keluarganya di rumah," ujar Zulfikar.

Ilustrasi.

Selain memberikan pendampingan, Zulfikar menyatakan pihaknya juga akan melakukan investigasi soal benih padi IF8.

"Karena ini lucu, jadi sebuah tindak pidana itu harus ada yang merasa dirugikan. Merugikan negara enggak, korupsi enggak. Ada petani yang kemudian menjadi korban dari hasil panen juga tidak. Jadi kerangka kasusnya ini sangat misteri, sangat lemah," ujar Zulfikar.

Lebih lanjut ia mempertanyakan asal-muasal benih bibit IF8 bisa hadir di Aceh. "Tanya kepada Kepala Dinas Pertanian Aceh, dari mana jalurnya sehingga bibit IF8 bisa hadir di Aceh. Siapa yang pasok, siapa yang membawanya sampai ke Nisam," sebut Zulfikar.

"Karena IF8 yang tidak ada label itu dibawa oleh pemerintah ke Nisam lalu dikembangkan. Yang dianggap oleh masyarakat karena itu dari pemerintah berarti legallah. Artinya ini ada yang tidak selesai di Dinas Pertanian kita, maka kita akan investigasi cek ke lapangan," kata Zulfikar.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini