Diakui Marinus, kala bertemu dengan keluarga - keluarga korban pada bulan Desember 2015 lalu di distrik Mbua, ada rasa kecewa dan sakit hati terhadap Pemda Kabupaten Nduga. Banyak adik-adik dari pimpinan KKB Egianus Kogoya yang meninggal akibat penyakit. Dan tudingan kelalaian Pemda sangat nampak atas buruknya pelayanan kesehatan.
"Tidak ada Puskesmas di seluruh distrik - distrik yang terdampak wabah penyakit. Dari distrik Mbua sampai Distrik Yigi hingga Distrik Mpenduma. Yang ada hanya satu Pustu peninggalan misionaris,"katanya
Yang lebih mengejutkan lagi 100 persen bayi dan balita di wilayah konflik Nduga saat ini, belum mendapat suntikan imunisasi. Marinus yang juga sebagai pengamat politik Papua ini menyebut masyarakat Nduga menilai ada unsur kesengajaan pemerintah Nduga.

"Dari kasus krisis kesehatan inilah sampai sekarang Pemda Kabupaten Nduga sulit berkomunikasi dengan masyarakat didistrik - distrik yang sedang berkonflik saat ini. Distrik - distrik yang menjadi basis dukungan perjuangan kelompok Egianus Kogoya,"ungkapnya.
Maka itu, langkah pertama yang selayaknya dilakukan adalah adanya permintaan maaf kepada masyarakat Nduga atas duka berlarut itu. Marinus mengkhususkan pada keluarga besar Bapak Elmin Silas Kogoya (Alm), Ayah dari Egianus Kogoya.
"Langkah awal itu kiranya dilakukan agar Bupati Nduga sebagai kepala daerah bisa didengar warganya. Rasa sakit hati dan kekecewaan itu harus hilang dulu. Karena saat ini suara Bupati tidak didengar dan tidak dihormati, terlebih kelompok Egianus Kogoya, termasuk kaitannya dengan kasus saat ini,"katanya.
Dengan tidak didengarnya suara Bupati dan Pemerintah daerah, maka permintaan tarik pasukan TNI Polri dinilai sangat beresiko. Sebaliknya, jika komunikasi dengan Bupati dan Pemda bersama masyarakatnya dan kelompok KKB mampu segera cair, maka potensi ancaman keamanan juga dianggap akan menurun. Bahkan yang terjadi adalah demiliterisme dikabupaten itu.