Kenyamanan Dinilai Jadi Penyebab Megawati Kembali Berikan Jabatan Sekjen kepada Hasto

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Minggu 11 Agustus 2019 08:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 11 605 2090445 kenyamanan-dinilai-jadi-penyebab-megawati-kembali-berikan-jabatan-sekjen-kepada-hasto-qNvSmUwxDE.jpg Hasto Kristiyanto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah menentukan kepengurusan DPP PDIP periode 2019-2024. Jabatan Sekertaris Jendral (Sekjen) partai berlambang Banteng kembali jatuh kepada Hasto Kristiyanto.

Lantas faktor apa saja yang membuat Megawati tetap mempercayakan jabatan Sekjen kepada Hasto?

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin menjelaskan sosok Hasto dinilai oleh Megawati dapat menjalankan ritme partai sesuai dengan harapan. Terbutki PDIP menjadi partai teratas dalam memperoleh suara saat pemilu 2019 lalu.

"Karena Hasto dianggap mampu memainkan irama orkestra PDIP. Sehingga PDIP secara organisasi tertata dengan baik," papar Ujang kepada Okezone, Minggu (11/8/2019).

Selain dianggap mampu memberikan sistem organisasi yang baik, kata Ujang presiden ke-enam RI itu juga merasa nyaman bekerjsama dengan Hasto saat menjabat sebagai Sekjen parpolnya.

"Dan mungkin juga Megawati merasa nyaman bekerja dengan Hasto," tuturnya. 

Hasto

Baca Juga: Kabar Koalisi dengan PDIP, Gerindra: Kalau Pilkada Mungkin-Mungkin Saja

Namun dalam susun kepengerusan nama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok tak tercantum. Menurut Ujang itu merupakan hal yang biasa dikarenakan Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut baru menjadi kader PDIP.

"Sedangkan tuk Ahok, wajar tidak masuk. Karena harus diuji dulu loyalitasnya. Kita tahu Ahok suka loncat-loncat partai. Jadi perlu diuji dulu loyalitas terhadap partai," katanya.

Dilanjutkan Ujang, apabila Ahok yang notabennya baru masuk menjadi kader dan langsung mendapat jabatan maka akan timbul konflik kecemburuan antar kader. Hal itulah yang dihindarkan oleh Megawati sehingga tak menunjuk Ahok.

"Jika Ahok masuk justru akan terjadi kecemburuan. Ahok orang baru kok masuk pengurus. Sedangkan orang lama tidak masuk. Jadi memang bagus tidak masuk pengurus. Dan Megawati sangat paham itu," pungkas Ujang.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini