Meskipun secara kelembagaan berhasil ditumpas, ideologi dan cita-cita untuk memperjuangkan negara Islam tetap tumbuh pada hati sanubari mereka. Wiranto menyebut ini sebagai embrio lahirnya gerakan radikal dan terorisme di Indonesia.
"Itulah embrio gerakan radikal dan terorisme di Indonesia. Misalkan kelompok jihadis, komando jihad, semua itu derivasi atau turunan yang menentang Pancasila," jelas Wiranto.
Kini, Wiranto bersyukur karena eks harakah Islam Indonesia, eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan eks NII telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi melalui ikrar setia kepada NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Menurutnya ini menjadi momen penting menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-74.
"Kita berharap kesadaran semacam ini tidak hanya berlaku di ruangan ini, tapi menyebar dan dapat diikuti oleh yang lain yang masih menduakan ideologi Pancasila," ucap Mantan Panglima ABRI itu.
Baca Juga: Pidato Visi Indonesia Jokowi Dinilai Jaga Pancasila dari Ancaman Radikalisme
Berikut bunyi ikrar setia yang dibacakan eks DI/TII, eks NII dan eks harakah Islam Indonesia:
1. Berpegang teguh kepada pancasila dan UUD 1945.
2. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
3. Menjaga persatuan dalam masyarakat majemuk agar tercipta keharmonisan, toleransi, kerukunan dan perdamaian untuk mencapai tujuan nasional.
4. Menolak organisasi dan aktivitas yang bertentangan dengan Pancasila.
5. Meningkatkan kesadaran bela negara dengan mengajak komponen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.