"Dilihat dari sejarah akulturasinya, memang Kaltim tidak seperti Sampit yang rawan konflik sosial rasial. Tetapi bukan berarti juga tanpa masalah," katanya.
Sejarah akulturasi di Kaltim, diterangkan Murlianti, adalah akulturasi yang hegemonik dari negara. Hal itu terlihat dari mulai adanya transmigrasi, kemudian berlanjut melalui industrialisasi hinga eksplorasi sumber daya alam.

"Masyarakat lokal yang tersingkir kemudian muncul dalam kelompok-kelompok LSM atau komunitas-komunitas yang membawa identitas etnik Dayak dengan beragam varian," terangnya.
"Kelompok-kelompok kemudian menggunakan identitas etnisitas ini untuk justifikasi tindakan menuntut keadilan dalam akses SDA, ketenagakerjaan, bahkan juga dalam perebutan kekuasaan politik," imbuhnya lagi.