nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kutip Ayat Al Quran, Putin Serukan Dihentikannya Perang di Yaman

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 11:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 17 18 2105809 kutip-ayat-al-quran-putin-serukan-dihentikannya-perang-di-yaman-4SpCaWy4kG.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

ANKARA – Presiden Rusia, Vladimir Putin menimbulkan keheranan setelah mengutip ayat Al Quran untuk menyerukan diakhirinya perang di Yaman yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun. Konflik antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang bermula sejak 2015 itu telah menewaskan puluhan ribu korban jiwa dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah.

Berbicara di Ankara bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada Senin, Putin menyampaikan ayat dari Surah al-Imran, meminta pada pihak-pihak yang bertikai di Yaman untuk berdamai.

BACA JUGA: Koalisi Saudi Serang Penjara Yaman, Tewaskan Lebih dari 100 Orang

"Dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu - ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan dan Dia menyatukan hatimu dan kamu menjadi, atas nikmat-Nya, bersaudara," kata Putin mengutip ayat 103 surah tersebut, sebagaimana dilansir RT, Selasa (17/9/2019).

Putin juga mereferensikan ajaran Alquran lain, tentang bagaimana kekerasan hanya sah jika digunakan untuk membela diri. Dia juga setengah bercanda menyarankan Arab Saudi untuk membeli sistem pertahanan udara Rusia, seperti yang telah dilakukan Iran dan Turki.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Iran Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan di Ankara, 16 September 2019. (Reuters)

Referensi Putin terhadap ayat suci Al Quran itu dicatat dengan persetujuan dari Erdogan dan Rouhani, yang masing-masing adalah Muslim Sunni dan Syiah. Kedua pemimpin itu memperingatkan bahwa invasi yang dipimpin Arab Saudi ke Yaman, yang telah mengakibatkan puluhan ribu kematian selama lima tahun terakhir dan benar-benar menghancurkan negara yang berada di ujung selatan semenanjung Arab itu.

BACA JUGA: Pasca Serangan Drone, Putin Tawarkan Sistem Pertahanan Rudal Rusia ke Saudi

Konflik yang dimulai sebagai perang saudara antara pemberontak Houthi dan pemerintah yang didukung Saudi meningkat menjadi invasi darat penuh pada 2015. Namun, setelah empat tahun, pasukan koalisi belum dapat mengalahkan kelompok Houthi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini