nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penyakit ISPA Akibat Kabut Asap Serang 16.000 Warga Kota Jambi

Azhari Sultan, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 09:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 17 340 2105753 penyakit-ispa-akibat-kabut-asap-serang-16-000-warga-kota-jambi-ipV6H7jf3s.jpg Ilustrasi kabut asap. (Foto: Okezone)

JAMBI – Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kota Jambi, Provinsi Jambi, semakin parah saja. Pada awal September 2019, jumlah korban yang terserang penyakit inspeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Kota Jambi mencapai 11.600 kasus.

Ironisnya, belum berakhir bencana kabut asap akibat karhutla, saat ini jumlah penderita ISPA di Kota Jambi menjadi 16.000 kasus, atau melonjak sekira 5.000 kasus.

"Sampai hari ini kasus ISPA di Kota Jambi sudah mencapai di angka lebih kurang 16.000 atau mengalami kenaikan lebih kurang 5.000 kasus dari awal bulan September," ungkap Wali Kota Jambi Syarif Fasha, Selasa (17/9/2019).

Baca juga: 292 Warga Ketapang Terserang ISPA Dampak Bencana Kabut Asap 

Ia mengatakan, lonjakan jumlah penderita ISPA ini menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota Jambi. Pihaknya selalu mengawasi kondisi ISPA di wilayahnya.

"Kami Pemkot Jambi berusaha semaksimal mungkin bagaimana meminimalisasi korban-korban ISPA yang terpapar, yaitu dengan berbagai regulasi dan kebijakan-kebijakan. Salah satunya maklumat yang sudah saya keluarkan bahwasanya kami akan mengatur libur sekolah dan mengurangi jam belajar. Itu sudah kami lakukan. Sudah dua kali kami lakukan," kata Fasha.

Wali Kota Jambi Syarif Fasha. (Foto: Azhari Sultan/Okezone)

Dia melanjutkan, pemkot sudah mengeluarkan kebijakan meliburkan dan mengurangi jam belajar bagi murid PAUD, SD, dan SMP. Kemudian mewajibkan setiap sekolah menggunakan ruang UKS sebagai lokasi bagi anak-anak yang terpapar kabut asap.

"Kami juga tidak memperbolehkan lagi ada kegiatan kegiatan di luar di sekolah, seperti pelajaran olahraga, pramuka, dan sebagainya. Semua itu kewenangan para kepala sekolah untuk menunda jam belajar masuk dan pulang cepat," tutur Fasha.

Baca juga: Bencana Kabut Asap hingga Dampak Parahnya Merenggut Jiwa 

Di samping itu, Pemkot Jambi juga selalu memperbarui data kondisi kualitas udara setiap 30 menit. Berdasarkan data tersebut, dapat diambil kesimpulan, apakah siswa masuk atau libur sekolah.

"Tiap sekolah sudah memiliki wadah, jadi informasi ini bisa cepat sampai, dan kami berikan kewenangan kepala sekolah untuk mengambil keputusan sikap, apakah mau menunda jam belajar jam 9 dan pulang jam 1," imbuh Fasha.

Ia menambahkan, pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit sudah diinstruksikan untuk melaksanakan piket sampai malam guna melayani pasien ISPA.

"Kami juga sudah menyiapkan satu ruangan di rumah sakit. Jika memang terbukti terpapar asap, tidak boleh dipungut biaya, gratiskan semua," ujar Fasha.

Baca juga: Ratas di Pekanbaru, Jokowi Sesalkan Satgas Karhutla Tak Tertib 

Selain itu, pihaknya mengimbau warga untuk tidak melakukan pembakaran sampah.

"Kota Jambi tidak punya hotspot, tetapi warga Kota Jambi itu adalah korban. Hotspot itu adanya di kabupaten. Saya selaku Wali Kota Jambi tidak bisa juga mengintervensi kabupaten, karena bukan kewenangan kami," pungkas Fasha.

Baca juga: Bayi yang Meninggal Akibat Kabut Asap Didiagnosis Radang Paru-Paru 

Ilustrasi kabut asap. (Foto: Okezone)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini