nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

281 Titik Api Terpantau di Sumsel, Status Udara Sempat 'Berbahaya'

Melly Puspita, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 08:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 19 610 2106644 281-titik-api-terpantau-di-sumsel-status-udara-sempat-berbahaya-DfhBrMdD2y.jpg Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. (Foto: Melly Puspita/Okezone)

PALEMBANG – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan pada hari ini, Kamis 19 September 2019, tepantau ada 281 titik api di wilayah Provinsi Sumatera Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan.

Wilayah yang paling banyak terdapat titik api yakni wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 145. Selain itu di wilayah konservasi juga tidak lepas dari bahaya karhutla.

Baca juga: WALHI: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Dijerat Pidana dan Pencabutan Izin 

Di daerah konservasi terpantau ada 20 titik api. Banyaknya hotspot ada di Sumsel bahkan menimbulkan dampak kabut asap.

LAPAN memaparkan karhutla diketahui terjadi di wilayah SP Padang, Banyu Asin I, Pampangan, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, Air Sugihan, Pedamaran, dan Mesuji.

Ilustrasi kabut asap. (Foto: Okezone)

Sementara BMKG mencatat status udara di sana sempat mencapai kategori Berbahaya, tepatnya pada 17–18 September 2019.

"Konsentrasi PM 10 yang tercatat di Stasiun Klimatologi Palembang 18 Septembar 2019 (00.00–09.00 WIB) tercatat sempat menyentuh kategori Berbahaya dengan nilai maksimum 301 mikrogram per meter kubik. Sedangkan nilai ambang batas tidak sehat adalah pada 150 µgram/m3," kata Kepala Observasi dan Informasi BMKG SMB II Palembang Bambang Beni.

Baca juga: 25.900 Hektare Hutan Terbakar di Kalbar, 133 Perusahaan Disanksi 

Ia menerangkan, angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari tenggara dengan kecepatan 5–20 knot atau 9–37 kilometer per jam. Hal itu mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Intensitas asap umumnya meningkat terjadi pada dini hari menjelang pagi hari sekira pukul 01.00–07.00 WIB. Hal ini akibat labilitas udara yang stabil pada saat tersebut.

Fenomena kabut asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara yang dihasilkan dari proses pembakaran.

"Hal ini berpotensi diperburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi yakni partikel basah atau uap air sehingga membentuk fenomena kabut asap," ucap Bambang Beny.

Ia malanjutkan, sedangkan untuk jarak pandang di Bandara SMB II Palembang yang terendah terjadi pada 18 September 2019 pagi, berkisar 700–800 meter dengan kelembapan 95–96 persen, dengan keadaan asap yang berdampak dua penerbangan yang mengalami keterlambatan.

Baca juga: 6 Titik Panas Terpantau di Wilayah Sumatera Utara 

Ilustrasi kabut asap. (Foto: Okezone)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini