nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Amnesty International Sebut Polisi Hong Kong Lakukan Penyiksaan saat Tangani Protes

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 20 September 2019 21:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 20 18 2107462 amnesty-international-sebut-polisi-hong-kong-lakukan-penyiksaan-saat-tangani-protes-BKMRnvsl6Y.jpg Seorang polisi Hong Kong mengarahkan senjata ke massa pro-demokrasi. (Foto/Reuters)

HONG KONG - Amnesty International menyebut bahwa polisi Hong Kong telah melakukan penyiksaan dan pelanggaran lainnya saat menangani protes massa pro-demokrasi yang berlangsung lebih dari tiga bulan.

Para pengunjuk rasa anti-pemerintah, telah melemparkan bom molotov ke kantor polisi dan pemerintah pusat, menyerbu Dewan Legislatif, memblokir jalan-jalan ke bandara, menghancurkan stasiun metro dan menyalakan api di jalan-jalan kota yang dikuasai China tersebut.

Polisi menanggapinya dengan menambakkan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan tembakan peringatan ke udara.

Baca juga: Pemimpin Hong Kong Buka Dialog dengan Massa Pro-Demokrasi

Baca juga: China Marah Menlu Jerman Temui Aktivis Hong Kong Joshua Wong

Foto/Reuters

Polisi Hong Kong dalam laporan Reuters, (20/92019) juga terlihat memukuli para pemrotes dengan pentungan. Beberapa cuplikan satu serangan semacam itu terlihat di stasiun kereta bawah tanah kemudian viral online dan memicu kemarahan yang semakin meluas.

"Pasukan (polisi) Hong Kong menggunakan taktik sembrono dan melanggar hukum terhadap orang-orang selama protes," Nicholas Bequelin, direktur Asia Timur di Amnesty International, mengatakan dalam sebuah laporan setelah investigasi lapangan.

"Ini termasuk penangkapan sewenang-wenang dan kekerasan pembalasan terhadap orang yang ditahan dalam tahanan, beberapa di antaranya merupakan penyiksaan."

Foto/Reuters

Dalam satu contoh, polisi menyorotkan laser hijau ke mata tahanan, kata Amnesty, menggunakan taktik yang sebelumnya digunakan oleh banyak pemrotes melawan polisi.

Menanggapi laporan Amnesty, polisi Hong Kong mengatakan mereka menghormati "privasi, martabat, dan hak" orang-orang yang ditahan menurut peraturan, yang memungkinkan tahanan dibawa ke rumah sakit dan berkomunikasi dengan pengacara dan keluarga mereka.

"Kekuatan yang akan digunakan oleh polisi harus menjadi kekuatan minimum yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang sah," kata polisi dalam pernyataannya.

Halaman Facebook resmi polisi Hong Kong sebelumnya mencatat bahwa hampir 240 polisi telah terluka dalam protes kekerasan ketika mereka melakukan "pengekangan tingkat tinggi ... untuk memulihkan ketertiban umum."

Putaran protes baru-baru ini di Hong Kong, bekas koloni Inggris yang dikembalikan ke China di bawah pengaturan "satu negara, dua sistem" pada tahun 1997, dipicu oleh undang-undang yang direncanakan yang akan memungkinkan orang-orang yang dituduh melanggar hukum bisa diadili di China daratan.

Meski Undang-undang itu sduah ditarik tetapi protes telah meluas, termasuk penyelidikan independen terhadap kebrutalan polisi. Para demonstran karena menduga ada campur tangan Beijing.

China mengatakan pihaknya berkomitmen pada aturan "satu negara, dua sistem" yang tidak dinikmati di China daratan, termasuk hak untuk berkumpul dan peradilan yang independen, dan menyangkal campur tangan.

Mereka menuduh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, mengobarkan kerusuhan dan menyuruh mereka untuk mengurus urusan mereka sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini