nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serangan Kilang Minyak Saudi, Amerika Akan Kirim Pasukan Pertahanan

Senin 23 September 2019 08:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 23 18 2108050 serangan-kilang-minyak-saudi-amerika-akan-kirim-pasukan-pertahanan-zguQYdb3JP.jpg Kerusakan di kilang minyak Arab Saudi yang diserang pesawat nirawak. (Foto: Fayez Nureldine/AFP/Getty Images)

AMERIKA Serikat telah mengumumkan rencana mengirim pasukan ke Arab Saudi usai terjadi serangan terhadap infrastruktur kilang minyak di sana. Hal itu sebagaimana diungkapkan Menteri Pertahanan AS Mark Esper.

Ia mengatakan kepada wartawan bahwa penempatan pasukan akan "lebih bersifat bertahan". Jumlahnya belum diputuskan.

Pemberontak Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua fasilitas minyak di Arab Saudi pada pekan lalu. Namun demikian, AS dan Arab Saudi menyalahkan Iran sebagai otak di balik serangan tersebut.

Baca juga:  Duga Iran Dalang Serangan Fasilitas Minyak Saudi, Trump: Kami Tidak Ingin Perang 

Bagaimanapun, sebelumnya pada Jumat, Presiden AS Donald Trump mengumumkan sanksi "berat" terhadap Iran. Sementara di sisi lain dia menyiratkan ingin menghindari adanya konflik militer.

"Saya pikir orang yang kuat melakukan pendekatan, dan hal yang menunjukkan kekuatan adalah menunjukkan kemampuan sedikit menahan diri," kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip dari BBC News Indonesia, Senin (23/9/2019).

Ia mengatakan, sanksi baru AS terhadap Iran akan menitikberatkan pada bank sentral Iran dan dana kekayaan negara.

Kilang minyak Saudi Aramco saat diserang pesawat nirawak. (Foto: Reuters)

Apa yang Dikatakan Pentagon?

Dalam jumpa pers bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford Jr, Jumat 20 September 2019, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengungkapkan rencana penempatan pasukan ke Arab Saudi. Hal itu, kata dia, dilakukan setelah Saudi dan Uni Emirat Arab meminta bantuan AS.

Baca juga: Menlu AS Sebut Serangan ke Fasilitas Minyak Saudi sebagai Pernyataan Perang 

Ia melanjutkan, pasukan AS akan fokus pada peningkatan pertahanan udara dan rudal. Kemudian AS akan "mempercepat pengiriman peralatan militer" kepada kedua negara tersebut.

Jenderal Dunford menyebutkan bahwa penempatan pasukan AS itu bersifat "moderat" dan jumlahnya tidak akan mencapai ribuan. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang jenis pasukan yang bakal dikirim.

Menurut laporan New York Times, ketika wartawan bertanya kepada Esper, apakah serangan militer terhadap Iran masih dipertimbangkan? Sekretaris pertahanan tersebut menjawab, "Itu bukanlah posisi kita saat ini."

Apa yang Terjadi di Arab Saudi?

Serangan melalui pesawat nirawak dan rudal jelajah telah menghantam fasilitas minyak Abqaiq dan ladang minyak Khurais di Arab Saudi pada pekan lalu. Serangan ini memengaruhi pasokan minyak global.

Pada Rabu kemarin, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menunjukkan yang mereka klaim sebagai puing-puing sisa pesawat nirawak dan rudal jelajah yang membuktikan keterlibatan Iran dalam serangan tersebut.

Tetapi negara itu, kata sang juru bicara, masih bekerja untuk mengetahui dengan tepat tentang lokasi peluncuran.

Baca juga: Puing Senjata Buktikan Iran di Balik Serangan Fasilitas Minyak Saudi 

AS juga menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut. Para pejabat senior negara itu mengatakan kepada media bahwa mereka memiliki bukti bahwa serangan ini dikendalikan dari wilayah selatan Iran.

Iran telah berulang kali membantah tuduhan bahwa pihaknya berperan dalam serangan itu. Presiden Hassan Rouhani menyebut serangan tersebut sebagai tindakan balasan "masyarakat Yaman".

"AS membantah jika mereka berpikir bahwa masyarakat Yaman yang menjadi korban kejahatan perang brutal selama 4,5 tahun tidak akan melakukan serangan balik," kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam cuitannya di akun Twitter-nya.

Baca juga: Arab Saudi Diam-Diam Jual Gedung Konsulat Tempat Pembunuhan Khashoggi 

Pada Rabu lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut serangan ke kilang minyak Arab Saudi sebagai "tindakan perang".

Sementara Zarif memperingatkan di Twitter bahwa Iran tidak memiliki keinginan perang, tetapi tidak akan ragu membela diri.

Apa Latar Belakang Semua Ini?

Abqaiq —yang dikelola perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco— dan ladang minyak Khurais dihantam drone dan rudal pada Sabtu 14 September 2019 dini hari.

Baca juga: Pejabat AS Klaim Senjata yang Serang Fasilitas Saudi Berasal dari Iran 

Pemberontak Houthi telah berulang kali meluncurkan roket, rudal, dan pesawat tanpa awak di daerah-daerah berpenduduk di Arab Saudi.

Iran adalah saingan regional Arab Saudi dan penentang AS yang menarik diri dari perjanjian yang bertujuan membatasi program nuklir Teheran setelah Trump mengambil alih kekuasaan.

Baca juga: Sistem Pertahanan Udara Arab Saudi Tak Berdaya Hadapi Serangan Drone 

Ketegangan AS-Iran meningkat tajam tahun ini. AS mengatakan Iran berada di belakang serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk pada Juni dan Juli, serta pada empat lainnya pada Mei. Teheran menolak tuduhan dalam kedua kasus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini