nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Wanita Indonesia di Singapura Ditahan Atas Kasus Terorisme

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 23 September 2019 17:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 23 18 2108291 3-wanita-indonesia-di-singapura-ditahan-atas-kasus-terorisme-SWfhaZuXxP.jpg Ilustrasi. (Foto/Okezone)

SINGAPURA - Tiga wanita Indonesia ditahan di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) atas kegiatan pendanaan terorisme, kata Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura.

Melansir Channel News Asia, Senin (23/9/2019) ketiga perempuan yang ditahan, yakni Anindia Afiyantari (31), Retno Hernayani (36), dan Turmini (31).

Mereka telah bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Singapura antara enam dan 13 tahun ketika mereka ditangkap. Ketiganya berkenalan pada 2018.

Anindia dan Retno pertama kali bertemu di sebuah pertemuan sosial di Singapura saat hari libur, sementara Turmini terhubung di media sosial.

"Seiring waktu, mereka mengembangkan jaringan kontak online asing yang pro-militan, termasuk 'pacar online' yang berbagi ideologi pro-ISIS," kata MHA.

Baca juga: WNI Terduga ISIS Ditangkap di Malaysia

Baca juga: Wanita ISIS Asal Bandung di Suriah: Kami Ingin Pulang ke Indonesia

Anindia dan Retno ingin melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan Negara Islam (ISIS). Anindia bersiap mengangkat senjata untuk kelompok teror di Suriah dan menjadi pembom bunuh diri, sementara Retno bercita-cita untuk tinggal di antara pejuang Negara Islam di Suriah dan berpartisipasi dalam konflik di sana.

Foto/Reuters

Kedua wanita itu juga didorong seseorang yang mereka kenal lewat online untuk pindah ke Filipina selatan, Afghanistan atau Afrika untuk bergabung dengan kelompok Negara pro-Islam di daerah-daerah tersebut.

Kemendagri Singapura mengatakan Retno percaya bahwa umat Islam berkewajiban untuk melakukan perjalanan ke zona konflik lainnya seperti Palestina dan Kashmir untuk berperang melawan "musuh-musuh Islam".

Ketiga wanita itu "secara aktif" mendukung Negara Islam, masing-masing mempertahankan beberapa akun media sosial untuk mengirim materi Negara yang pro-Islam.

Mereka juga menyumbangkan dana kepada entitas yang berbasis di luar negeri dengan tujuan terorisme, seperti untuk mendukung kegiatan Negara Islam dan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia Jemaah Anshorut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam. Ketiganya menjadi pendukung kuat kelompok teroris.

Turmini percaya sumbangannya akan memberinya tempat di surga, kata MHA.

Radikal melalui online

Ketiga wanita itu diradikalisasi pada tahun lalu setelah mereka menemukan materi online terkait dengan Negara Islam.

Mereka yakin bahwa Negara Islam berjuang untuk Islam dan penggunaan kekerasan terhadap "orang-orang kafir" dibenarkan, dan semakin diradikalisasi setelah bergabung dengan beberapa kelompok dan saluran media sosial media pro-Islam, menurut MHA.

"Mereka tertarik pada visual kekerasan yang disebarluaskan, seperti serangan bom ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan video pemenggalan kepala, serta propaganda daur ulang kemenangan (Negara Islam) sebelumnya di medan perang," katanya.

Mereka juga dipengaruhi oleh ceramah oleh para penceramah radikal di Indonesia.

Pekerja rumah tangga Indonesia keempat juga ditangkap sebagai bagian dari penyelidikan.

Dia tidak ditemukan telah diradikalisasi, tetapi tidak melaporkan radikalisasi yang lain kepada pihak berwenang meskipun mengetahuinya, kata MHA. Sejak itu ia dipulangkan ke Indonesia.

"Fakta bahwa ketiga individu dalam kasus ini diradikalisasi pada tahun 2018, pada saat wilayah ISIS telah berkurang secara signifikan, menyoroti daya tarik abadi ideologi kekerasan ISIS," kata MHA.

Sejak 2015, ada 19 pekerja rumah tangga asing yang teradikalisasi, termasuk Anindia, Retno dan Turmini, telah terdeteksi di Singapura.

Tidak satu pun dari mereka diketahui memiliki rencana untuk melakukan tindakan kekerasan di Singapura, tetapi radikalisasi dan hubungan mereka dengan teroris di luar negeri telah menjadikan mereka ancaman keamanan bagi negara, kata MHA.

16 pekerja rumah tangga yang sebelumnya teradikalisasi semuanya dipulangkan setelah investigasi selesai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini