nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pria AS Bocorkan Data Ribuan Warga Singapura yang Positif HIV

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Selasa 01 Oktober 2019 06:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 30 18 2111230 pria-as-bocorkan-data-ribuan-warga-singapura-yang-positif-hiv-GZQMT0L5jK.jpg Ilustrasi Foto/Okezone

SINGAPURA - Seorang pria Amerika Serikat (AS) yang membocorkan data ribuan warga Singapura postif HIV, kebanyakan dari mereka adalah orang asing, telah dipenjara di Amerika Serikat selama dua tahun.

Mikhy Farrera Brochez dihukum oleh pengadilan Kentucky pada Juni karena mencoba memeras pemerintah Singapura menggunakan data yang dicuri.

Pria 34 tahun itu memperoleh data dari pasangannya, seorang dokter senior Singapura yang juga membantu Brochez dalam menyembunyikan data rahasia.

Baca juga: Prajurit Angkatan Udara AS Ketahuan Rekam Wanita Mandi

Baca juga: Polisi di AS Diskors Setelah Tangkap Dua Bocah Enam Tahun

Informasi rahasia termasuk nama dan alamat 14.200 orang yang didiagnosis positif virus yang menyebabkan AIDS.

Kebocoran itu menyebabkan kecemasan di antara mereka yang positif HIV, yang telah lama mengeluh menghadapi prasangka di Singapura yang secara sosial konservatif.

Brochez dijatuhi hukuman 24 bulan penjara federal pada Jumat, kata pernyataan dari Kantor Kejaksaan AS di Distrik Timur Kentucky.

"Perilaku terdakwa serius dan signifikan, mempengaruhi ribuan orang di seluruh dunia," kata Pengacara AS Robert M. Duncan Jr, mengutip New Strait Times, Senin (30/9/2019).

Data termasuk informasi soal 50 warga negara Amerika, kata pernyataan itu.

Brochez juga akan ditempatkan di bawah pengawasan selama tiga tahun setelah pembebasannya.

Dia dipenjara di Singapura pada tahun 2016 karena berbohong tentang status HIV-nya, pelanggaran terkait narkoba dan penipuan.

Dia dideportasi pada tahun 2018, kemudian muncul soa kebocoran data, mendorong penangkapannya di AS.

Orang asing yang positif HIV selama bertahun-tahun tidak diizinkan masuk di Singapura.

Pada 2015, pihak berwenang mulai mengizinkan orang asing dengan virus untuk melakukan kunjungan singkat, tetapi mereka yang ingin bekerja di Singapura masih harus lulus tes HIV.

Kebocoran data adalah pelanggaran besar kedua terhadap informasi rahasia yang diungkapkan dalam beberapa bulan, setelah catatan kesehatan sekitar 1,5 juta warga Singapura dicuri oleh peretas tahun lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini