nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menlu Retno: Indonesia Dorong Partisipasi Perempuan dalam Operasi Penjaga Perdamaian

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 20:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 14 18 2130002 menlu-retno-indonesia-dorong-partisipasi-perempuan-dalam-operasi-penjaga-perdamaian-gAQPBdlmov.jpeg Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi. (Foto: Okezone/Dede Kurniawan)

JAKARTA – Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengungkapkan bahwa dia ingin semakin banyak melibatkan perempuan dalam operasi penjaga perdamaian, sebagai bagian dari prioritas Indonesia dalam Dewan Keamanan PBB, di samping beberapa prioritas lainnya.

Sejak menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada awal tahun ini, Indonesia mengusung misi untuk menjaga ekosistem perdamaian, yang merupakan konsensus dari Dewan Keamanan. Upaya ini dilakukan Indonesia dengan berperan sebagai bridge builder, yang menjembatani hubungan antara negara-negara yang berkonflik.

BACA JUGA: Indonesia Resmi Jadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB

Menurut Menlu Retno, peran tersebut telah berhasil dijalankan dengan baik oleh Indonesia.

“(Peran) menjadi bridge builder ini telah diakui oleh Sekjen (Sekretaris Jenderal) PBB pada pertemuan ASEAN-UE baru-baru ini di Bangkok.

“Pada pertemuan terbuka, Sekjen PBB mengatakan bahwa dia mengakui peran Indonesia sebagai bridge builder selama Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Peran sebagai bridge builder memang diperlukan oleh dunia yang terbelah-belah sekarang ini dan itu mendapat apresiasi dari Sekjen PBB,” kata Menlu Retno dalam wawancara dengan Okezone.

Hal lain yang juga mendapat perhatian dalam konteks menjaga ekosistem perdamaian adalah partisipasi Indonesia dalam Operasi Penjaga Perdamaian (Peacekeeping Operation/PKO) di mana Indonesia menjadi salah satu negara kontributor terbesar. Terkait hal ini, Menlu Retno mengatakan bahwa dia ingin semakin melibatkan dan memberdayakan perempuan dalam PKO PBB.

“Saya ingin memperdayakan perempuan PKO, baik jumlah maupun kapasitas perempuan itu harus kita naikkan. Jadi di wilayah paskakonflik itu banyak sekali yang perlu perempuan di lapangan nah ini masih ada gap antara kebutuhan dengan yang dimiliki oleh dunia, dalam hal jumlah PKO perempuan. Oleh karena itu harus diperbanyak harus di naikkan kapasitasnya, porsi deployment-nya harus bersahabat dengan perempuan,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah melibatkan lebih dari 100 perempuan di dalam PKO-nya, yang dapat dikatakan jumlah yang sudah sangat baik.

Hal lain yang juga menjadi prioritas Indonesia di Dewan Keamanan PBB adalah mensinergikan organisasi regional dengan PBB agar dapat menangkal ancaman secara lebih efektif.

“Kalau kita di kawasan punya organisasi yang kuat, jika terjadi sesuatu dengan kawasan kita maka akan di tangani oleh kawasan dan tidak semuanya dilarikan ke PBB. Akan lebih mudah dan cepat bagi kawasan untuk bergerak,” papar ibu dua anak itu.

BACA JUGA: Kembali Dipercaya Pimpin Kemlu RI, Menlu Retno Dapat Pesan Khusus dari Presiden Jokowi

Masalah tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDG), isu kejahatan transnasional, termasuk terorisme dan isu Palestina juga menjadi prioritas perhatian Indonesia di Dewan Keamanan.

“Mengenai masalah transnasional organize crime termasuk konteks teroris, karena terorisme ini merupakan ancaman yang tidak cuma di satu dua negara, tetapi hampir di seluruh dunia memiliki ancaman yang sama. Dan isu spesifik yang terus kita angkat adalah mengenai Palestina.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini