DEPOK - Din Syamsuddin ikut melayat ke rumah duka Ketua PP Muhammadiyah Bahtiar Effendy di Perumahan Gema Pesona Estate, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Bahtiar meninggal dunia di RSIJ Cempaka Putih.
Din mengatakan dia dan almarhum adalah kerabat dekat yang seperti saudara kandung. Keduanya sama-sama kuliah di fakultas Ushuludin, IAIN sekarang, UIN Jakarta. Setelahnya, mereka melanjutkan studi ke Amerika pada 1986.
"Almarhum dari jarak dekat, saya nilai adalah seorang cendikiawan, ilmuwan sejati, pembaca dan juga penulis. Bukunya banyak sekali, terutama tentang Islam dan politik di Indonesia atau ilmu politik. Tapi juga almarhum saya nilai, satu dari sedikit ilmuwan yang memiliki praksisme tinggi, kebijakan dalam hal praktis, antara lain memprakarsai dan menjadi bisa disebut sebagai pendiri dan menjadi dekan pertama dari Fisip UIN Jakarta. Dan fakultas baru ini mengalami perkembangan cepat sekali, baik fisik, gedung maupun nonfisik, dan saya berada di dalamnya sebagai guru besar," kata Din, Kamis (21/11/2019).

Din menilai, almarhum sebagai ilmuwan kritis dan menyimpan kegusaran dan kegeraman terhadap perkembangan perpolitikan nasional kita, walaupun almarhum ilmuwan yang tidak mau bicara di publik.
"Ada yang mengatakan saya tunduk dan patuh dan tidak bisa ditundukkan oleh siapapun, kecuali oleh seorang Bahtiar Effendy. Tapi pada sisi lain, ada yang mengatakan Bahtiar Effendy tidak mudah untuk ditaklukkan kecuali oleh Din Syamsuddin. Maka dia adalah penasehat politik saya, banyak pandangan politiknya yang mempengaruhi pandangan dari sikap politik saya. Tapi saya juga berfungsi bagi Beliau sebagai penasehat spiritualnya," jelasnya.
Din merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Bahtiar. "Almarhum menderita sakit cukup lama ya. Menyangkut pita suara, dan terakhir menyentuh paru-paru sehingga sulit diselamatkan hingga ajal menjemput. Menahannya, sakit yang diderita itu, mudah-mudahanan bisa menghapus segala dosa-dosanya," kata dia.
(Qur'anul Hidayat)