Bertemu di Paris, Putin dan Zelensky Sepakati Gencatan Senjata Ukraina-Rusia

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 10 Desember 2019 08:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 10 18 2140028 bertemu-di-paris-putin-dan-zelensky-sepakati-gencatan-senjata-ukraina-rusia-dWnny8LjcD.jpg (Kiri ke Kanan) Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pertemuan tingkat tinggi di Paris, Prancis, 9 Desember 2019. (Foto: EPA)

PARIS – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk pertama kalinya melakukan pertemuan empat mata di Paris pada Senin. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin sepakat untuk mengimplementasikan gencatan senjata secara “penuh dan komprehensif” di timur Ukraina pada akhir 2019.

Pertempuran sepanjang lima setengah tahun antara pasukan pemerintah Ukraina dan pemberontak yang didukung Rusia telah menewaskan sedikitnya 13.000 jiwa.

BACA JUGA: Konflik Memanas, Ukraina Timur Didera Bencana Kemanusiaan

Menurut laporan BBC, rangkaian negosiasi di Paris itu yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman itu digelar mengikuti pertukaran tahanan besar dan penarikan militer Ukraina dari tiga area penting di garis depan konflik.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Rusia dan Ukraina setuju untuk membebaskan dan menukar semua "tahanan terkait konflik" pada akhir tahun ini. Kedua pihak juga berjanji untuk menarik pasukan militer di tiga wilayah tambahan Ukraina pada akhir Maret 2020, tanpa menyebutkan wilayah mana yang akan terpengaruh.

Pembicaraan tambahan akan diadakan dalam empat bulan mendatang untuk mengetahui kemajuan gencatan senjata.

Pada konferensi pers setelah pembicaraan di Istana Élysée, Prancis, Presiden Putin memuji pembicaraan itu sebagai "langkah penting" menuju de-eskalasi konflik di timur Ukraina.

Presiden Zelensky mengatakan masalah ekspor gas Rusia melalui pipa yang melintasi Ukraina telah "dibuka" setelah perselisihan tentang tarif transit, dan kesepakatan sekarang akan berhasil.

Namun Rusia dan Ukraina tetap tidak sepakat mengenai masalah-masalah seperti penarikan mundur pasukan Rusia, dan pemilihan umum di daerah-daerah Ukraina yang diadakan oleh pemberontak separatis.

BACA JUGA: Pemberontak Ukraina Deklarasi Berdirinya Negara Baru Bernama Malorossiya

Selain itu Putin juga menyerukan perubahan konstitusi Ukraina untuk memberikan status khusus pada wilayah Donbas, yang saat ini di bawah kontrol pasukan pemberontak. Namun, kepada wartawan Zelenzky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya sebagai ganti perdamaian.

"Kami melihat perbedaan hari ini," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menjadi tuan rumah pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

"Kami tidak menemukan solusi ajaib, tetapi kami telah membuat kemajuan dengannya," tambahnya.

Konflik di timur Ukraina pecah saat kelompok separatis Pro-Rusia menguasai sebagian besar wilayah Donetsk dan Luhansk pada April 2014, hanya beberapa saat setelah bergabungnya Krimea Ukraina dengan Rusia.

Itu adalah pemberontakan terhadap otoritas pro-Barat yang baru di Ibu Kota Kiev, yang telah menggulingkan Presiden pro-Rusia, Viktor Yanukovych, melalui protes jalanan yang disebut sebagai "Revolusi Maidan".

Kelompok separatis kemudian menyatakan kemerdekaan dari Ukraina - tetapi tidak ada negara yang mengakui "republik" mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini