nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Perempuan Uighur yang Mempertanyakan Keberadaaan Ayahnya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 20 Desember 2019 09:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 19 18 2143957 kisah-perempuan-uighur-yang-mempertanyakan-keberadaaan-ayahnya-BRwftYLtrC.jpg Jewer Ilham saat pidato di Parlemen Uni Eropa. (Foto/Reuters)

STRASBOURG - Anak perempuan Ilham Tohti, seorang cendekiawan Uighur yang dipenjara di China, mengaku tidak tahu apakah ayahnya masih hidup.

Jewher Ilham mengatakan hal itu setelah menerima penghargaan hak asasi manusia dari Eropa atas nama ayahnya.

Ilham Tohti dipenjara seumur hidup atas tuduhan terlibat dalam gerakan separatisme pada tahun 2014.

China telah menuai protes internasional akibat perlakuannya terhadap Uighur, minoritas Muslim di wilayah Xinjiang barat.

Foto/BBC

Tohti, seorang sarjana ekonomi, dikenal karena penelitiannya tentang hubungan antara orang-orang Uighur dan Han.

Baca juga: Media AS Sebut China Bujuk Dua Ormas Islam Indonesia agar Bungkam soal Muslim Uighur

Baca juga: Etnis Uighur, China Klaim Semua Orang yang Dikirim ke Kamp Penahanan Sudah Lulus

Jaksa penuntut dalam sidang tahun 2014 menuduh dia terlibat dalam kegiatan separatis, termasuk mempromosikan kemerdekaan bagi Xinjiang di situs webnya, Uighur Online.

Situs web ini, ujar Tohti, bertujuan mengedukasi para penutur bahasa Mandarin dan Uighur tentang masalah sosial.

Dia menyangkal telah menjadi separatis. Tohti dipandang oleh banyak orang sebagai suara moderat.

Jewher Ilham mengatakan dia sudah tidak bertemu ayahnya sejak 2013 dan tidak berkomunikasi dengannya selama dua tahun.

Tohti dianugerahi Hadiah Sakharov dari Parlemen Eropa untuk Kebebasan Berpikir karena dianggap mempromosikan "dialog dan saling pengertian" antara umat Uighur dan orang-orang China lainnya.

Jewher Ilham mengatakan ayahnya dicap "ekstremis yang kejam, dengan penyakit yang perlu disembuhkan dan pikiran yang perlu dicuci".

"Saya bersyukur atas kesempatan untuk menceritakan kisahnya, karena dia tidak bisa menceritakannya sendiri," kata Jewher Ilham, yang menerima penghargaan di kota Prancis Strasbourg di sebelah kursi kosong simbolis.

"Jujur, saya tidak tahu di mana ayah saya berada. Tahun 2017 adalah kali terakhir kali keluarga saya menerima kabar tentang dia."

"Hari ini harusnya menjadi momen sukacita untuk merayakan kebebasan berbicara," kata Presiden Parlemen Eropa David Sassoli melansir BBC, Kamis (19/12/2019).

"Namun, sebaliknya, ini adalah hari kesedihan. Sekali lagi, kursi ini kosong karena di dunia kita hidup dan menjalankan kebebasan berpikir, kita tidak selalu bebas."

Jewher Ilham mengatakan harapannya kembali setelah melihat apa yang terjadi pada pemenang hadiah Sakharov tahun lalu, Oleg Sentsov, seorang sutradara film Ukraina.

Sentsov, yang dipenjara atas tuduhan terorisme, dibebaskan pada November lalu.

"Saya berharap hal yang sama terjadi pada ayah saya," katanya.

China dikritik karena tindakan kerasnya terhadap orang-orang Uighur di Xinjiang.

Pemerintah China dituduh menangkap dan menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan etnis minoritas di kamp-kamp penahanan. 

Beijing bersikeras bahwa kamp-kamp itu adalah "pusat pelatihan kejuruan" yang membantu warga Uighur berintegrasi dengan masyarakat China, untuk mencegah terorisme.

Sejak itu dikatakan bahwa mereka yang ditempatkan di "kamp pendidikan ulang" semuanya telah lulus. Klaim ini belum diverifikasi karena kontrol ketat media di Cina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini