JAKARTA - Sebanyak 34 korban meninggal dunia akibat kecelakaan Bus Sriwjaya yang terjun ke jurang dan mendarat di Sungai Lematang, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Beberapa analisa pun telah dirangkum pihak kepolisian.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Istiono mengungkapkan pihaknya telah menganalisa dan telah mendapatkan hasil dalam penyelidikan kecelakaan tersebut. Seperti PO bus tersebut memperkerjakan supir yang tak mempunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM).
"Pertama, faktor perusahaan otobus (PO). PO bus mempekerjakan supir bus tanpa SIM, mengalihkan/menugaskan sopir ke jalur lain, kapasitas seat sesuai perizinan untuk 25 seat namun dipaksakan untuk 48 seat. Manajemen kontrol yang lemah atau membiarkan busnya dioperasionalkan tidak sesuai standar safety," kata Irjen Istiono kepada Okezone, Rabu (25/12/2019).
Faktor kedua, adalah bus tersebut terhilang sudah tua dan dalam kondisi yang tak layak untuk mengangkut penumpang. Menurut Istiono, telah terjadi rem blong saat dioperasionalkan menunjukkan standar safety bus tidak terpenuhi atau kondisi tidak layak operasional. Ban belakang vulkanisir dan aus sehingga tidak berfungsi sebagai penahan saat dilakukan pengereman atau menyebabkan kendaraan meluncur los
"Kedua, faktor kendaraan. Bus buatan tahun 1999 sudah dioperasionalkan selama 20 tahun kondisi yang tidak terkontrol," bebernya.

Baca Juga: 2 Korban Bus AKAP Sriwijaya Ditemukan, Total Ada 34 Orang Tewas
Menurut Istiono, faktor selanjutnya adalah faktor jalan. Jalan berliku dan terdapat tikungan tikungan tajam sampai dengan 45 persen, guard reel atau besi pembatas di tikungan turunan tidak ada. Tidak ada rambu maupun tanda spot light yang menunjukkan daerah rawan kecelakaan dan tidak ada lampu penerangan jalan.
"Faktor lain adalah faktor manusia. Tidak memiliki SIM sehingga menunjukan pengemudi yang tidak profesional. Tidak terbiasa melewati jalur tersebut, saat menghadapi masalah menjadi gugup dan tidak mampu mengatasi situasi yang berdampak los tidak ada pengeraman atau upaya penyelamatan darurat," katanya.
"Faktor alam. Kondisi yang gelap ada kemungkinan berkabut sehingga dalam cuaca buruk berpengaruh terhadap kompetensi pengemudi maupun bus yang tidak mampu berfungsi sebagaimana semestinya,” tambahnya.