KOTAWARINGIN BARAT - Melestarikan budaya, adat istiadat lokal wajib dilakukan semua masyarakat. Sebab seringkali budaya adat lokal suatu daerah tergerus modernisasi.
Kali ini, Okezone mencoba mengikuti tradisi nyandau (panen bersama) buah durian. Tradisi ini masih dilakukan oleh warga dayak di Desa Riam dan Desa Panahan, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).
Di saat musim durian seperti sekarang, sejak Desember hingga Januari, warga setempat melakukan ritual nyandau. Ritual ini dengan cara bermalam di tengah hutan dengan membuat pondok yang tidak jauh dari pohon durian di perbukitan Balang, Desa Riam.
Untuk melestarikan budaya ini, pihak kantor desa mengundang, Bupati Kobar Nurhidayah beserta rombongan SOPD Kobar diajak menyandau durian di Camp Harapan, Desa Riam pada Jumat malam 10 Januari hingga Sabtu pagi (11/1/2020). Selain mengikuti tradisi menyandau durian juga berdialog bersama warga sekitar.

Sabtu pagi rombongan berangkat dari Camp Harapan Desa Riam menunju Bukit Balang menggunakan mobil karena jalan yang menanjak dan licin. Setelah itu berjalan kaki setapak menanjak menuju Bukit Balang sekitar 500 meter menuju pohon durian.
Tidak hanya “king of fruit” yang dicari, rombongan juga mendapatkan buah “kerantungan” masih sejenis durian yang lebih kecil dengan rasa yang manis dan isinya hanya 1 sampai 3 biji saja.
Durian yang dipanen masyarakat Desa Riam dan Panahan, bukan lah durian yang dipetik dari pohonnya. Namun menunggu durian tersebut jatuh, kemudian dikumpulkan lalu dijual kepada pengepul untuk dikirim ke Kota Pangkalan Bun.