nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Ingin Dimarahi Jadi Alasan PRT Indonesia Campur Urine ke Makanan Majikan

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 21:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 15 18 2153332 tak-ingin-dimarahi-jadi-alasan-prt-indonesia-campur-urine-ke-makanan-majikan-ZAd0VYfQa8.jpg Ilustrasi. (Foto/Shutterstock)

SINGAPURA - Seorang pekerja rumah tangga (PRT) asal Indonesia divonis enam bulan penjara oleh pengadilan Singapura karena mencuri uang keluarga majikannya, dan mencampurkan urine ke dalam makanan yang akan disajikan kepada sang majikan.

Melansir Today Online, Rabu (15/1/2020) PRT yang hanya disebut dengan nama Diana, itu mengambil uang tunai ibu majikannya sebesar SSD17.000 (sekira Rp172 juta).

Dia juga beberapa kali melakukan pencurian antara pertengahan Agustus 2017 dan Juni 2018, dengan total uang sebesar SSD13.300 (sekira Rp135 juta).

Dokumen pengadilan juga menunjukkan bahwa Diana mencuri SSD4.000 lainnya antara September dan November 2019.

Baca juga: Orang Tua Kurung Anak di Kandang Kucing lalu Menyiram dengan Air Panas hingga Tewas

Baca juga: Gegara Bedak Ketiak, Remaja Indonesia Ditahan Polisi Singapura

Laporan ID Today menyebutkan Diana khawatir akan dimarahi sang majikan karena kinerjanya yang buruk. Alasan itulah yang membuat dia mencampur urine, air liur dan darah menstruasinya ke dalam beras sebelum dimasak. Enam anggota keluarga yang mempekerjakan Diana semua mengonsumsi nasi dari beras tersebut.

Diana telah bekerja selama sekira dua tahun dan selama itu pula dia memasukkan cairan-cairan yang menjijikkan itu ke dalam ketel dan beras keluarga majikannya.

Dalam pembelaannya, Diana yang tidak memiliki pengacara memohon melalui seorang penerjemah untuk "hukuman seringan mungkin", mengatakan bahwa ia memahami kesalahannya.

“Saya ingin meminta maaf kepada majikan saya dari lubuk hati saya... saya mencuri uang majikan saya karena keluarga saya di Indonesia mengalami kesulitan. Saya sangat menyesal," katanya sebagaimana dilansir South China Morning Post, Rabu (15/1/2020).

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini