nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kwarcab Pramuka Yogyakarta Minta Maaf Terkait Tepuk Berbau SARA

Rabu 15 Januari 2020 05:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 15 510 2152973 kwarcab-pramuka-yogyakarta-minta-maaf-terkait-tepuk-berbau-sara-qcFRCaspV4.jpg Ilustrasi pramuka. (Foto: Dok Okezone)

YOGYAKARTA — Kasus yang menyinggung keyakinan keagamaan kembali terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kali ini seorang pembina pramuka dari Gunungkidul mengajarkan tepuk dengan kata "kafir no" di akhir tepukan saat memberikan pelatihan di sebuah sekolah dasar di Kota Yogyakarta pada Jumat 10 Januari 2020.

Pembina tersebut akhirnya minta maaf setelah salah satu wali murid memprotes tepuk berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) itu. Sang wali murid menceritakan saat itu dia sedang menunggu putranya yang belum keluar kelas di SD Timuran, Prawirotaman, Kota Yogyakarta.

Baca juga: Heboh Pembina Pramuka di Yogyakarta Ajarkan Tepuk Bernuansa SARA 

Saat itulah dia melihat praktik pramuka dengan peserta murid di kelas anaknya. "Awalnya semua bernyanyi normal, lalu tiba-tiba ada pembina putri masuk dan mengajak anak-anak tepuk tangan," kata dia, Senin 13 Januari 2020, mengutip dari Solopos.

Masalahnya di akhir tepukan, pembina pramuka tersebut mengajarkan kata-kata "kafir no". Setelah mendengar perkataan itu, seorang pembina yang lain menyampaikan keberatan kepada pembina senior.

Menurut dia, hal ini mencemari kebinekaan pramuka. Pembina senior pun langsung minta maaf dan berjanji akan menyelesaikan persoalan dengan pembina yang mengajarkan tepuk tangan "kafir no".

Sang wali murid yang enggan disebutkan identitasnya tersebut mengatakan insiden ini tidak ada kaitannya dengan sekolah. Kegiatan pramuka siang itu, kata dia, diadakan Kwarcab Kota Yogya. Dia menilai sekolah sejauh ini cukup terbuka dan menghormati keberagaman.

Baca juga: Saat Aksi Debus Anak 11 Tahun Memukau Publik Malaysia 

Sementara Kepala SD Negeri Timuran Esti Kartini Spd menjelaskan insiden tersebut terjadi di luar pengawasannya. Kegiatan pramuka pada Jumat 10 Januari 2020 merupakan kegiatan dari Kwarcab Kota Yogya. "Sekolah kami hanya ketempatan," ujarnya.

Sekolah yang dia pimpin adalah SD umum sehingga pengurus pramuka tidak pernah mengajarkan tepuk tangan bernuansa SARA tersebut kepada para siswa. "Kami baru tahu kalau ada insiden ini. Kami akan klarifikasi ke Kwarcab," kata dia.

Minta Maaf

Ketua Kwarcab Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan kegiatan pramuka di SD Negeri Timuran merupakan Kursus Mahir Lanjut (KML) pihaknya dengan peserta pembina dari berbagai daerah di sekitar DIY.

"Pembina yang mengajarkan tepuk itu peserta dari Gunungkidul," katanya.

Baca juga: HUT Ke-58 Pramuka, Jokowi: Terima Kasih karena Terus Menjadi Patriot 

Ia menerangkan, jika mengacu pada materi yang diajarkan, sebenarnya tidak ada ajaran tepuk tangan tersebut. "Hal itu terjadi atas spontanitas pembina."

Setelah mendapat laporan dari wali murid, Kwarcab Kota Yogya langsung minta maaf dan mengklarifikasi kalau tepuk tersebut tidak ada dalam pramuka.

Baca juga: Pramuka di Era Industri 4.0? Perlu Menyesuaikan Milenial 

Kwarcab Kota Yogya akan memanggil pembina dan panitia yang berkaitan dengan kegiatan itu. "Akan diluruskan apa yang keliru, juga apa konsekuensinya," ujar dia.

Guna mengantisipasi hal serupa, Kwarcab Kota Yogya akan lebih menekankan materi apa saja yang boleh dan tidak boleh diajarkan dalam konteks kepramukaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini