nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Duterte Ancam Putus Perjanjian Militer dengan AS Gara-Gara Masalah Visa

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 24 Januari 2020 19:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 24 18 2157709 duterte-ancam-putus-perjanjian-militer-dengan-as-gara-gara-masalah-visa-tlBzTXGGm3.jpg Foto: Reuters.

MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Kamis memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa ia akan mencabut perjanjian mengenai penempatan pasukan dan peralatan untuk latihan militer jika Washington tidak mengembalikan visa sekutu politik.

Tampak kesal, Duterte melampiaskan kemarahannya pada keputusan AS untuk menolak masuk Ronaldo dela Rosa, seorang mantan kepala polisi yang sekarang menjadi senator.

Dela Rosa mengatakan kedutaan besar AS di Filipina, tidak menjelaskan mengapa visanya dibatalkan, tetapi ia yakin itu kemungkinan besar karena tuduhan pembunuhan di luar proses hukum selama masa jabatannya yang lebih dari dua tahun sebagai kepala polisi.

BACA JUGA: Filipina Larang Senator AS Berkunjung, Ancam Perketat Visa untuk Warga Amerika

Pria yang dijuluki ‘Bato’ itu adalah penegak utama tindakan keras anti-narkotika Duterte, yang telah menyebabkan kematian lebih dari 5.000 orang, sebagian besar pengedar narkoba.

"Jika Anda (AS) tidak melakukan koreksi, satu, saya akan menutup pangkalan-pangkalan, Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA)," kata Duterte dalam pidato di depan mantan anggota pemberontak Komunis sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (24/1/2020). "Saya memberi waktu bagi pemerintah dan pemerintah AS satu bulan dari sekarang."

VFA yang ditandatangani pada 1998, memberikan status hukum kepada ribuan tentara AS yang dirotasi di negara itu untuk latihan militer dan operasi bantuan kemanusiaan.

BACA JUGA: Polisi Filipina Korup Diminta Menyerah dalam 48 Jam atau Mati

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana menolak berkomentar ketika ditanya apakah dia setuju dengan rencana sang presiden.

Sudah bukan rahasia bahwa Duterte tidak menyukai AS dan apa yang dia lihat sebagai kemunafikan dan campur tangan dari Negeri Paman Sam, meskipun Washington adalah sekutu pertahanan terbesar Filipina dan jutaan orang Filipina memiliki saudara yang merupakan warga negara AS.

Bulan lalu, Duterte melarang senator AS Richard Durbin dan Patrick Leahy mengunjungi Filipina setelah mereka mengusulkan sebuah ketentuan di Kongres AS.

Ketentuan itu mengenai pemberlakuan larangan masuknya AS kepada siapapun yang terlibat dalam pemenjaraan Senator Filipina Leila de Lima, seorang mantan menteri kehakiman dan kritikus utama Duterte yang pada 2017. De Lima dibui atas tuduhan kepemilikan narkoba setelah memimpin penyelidikan terhadap ribuan kematian selama kampanye anti-narkotika Duterte.

Kedutaan Besar AS di Manila tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar di luar jam kerja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini