nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rekrut Calon TKI Ilegal Lewat Medsos, Warga Malaysia Ditangkap Polisi

Aini Lestari, Jurnalis · Jum'at 24 Januari 2020 23:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 24 340 2157983 rekrut-calon-tki-ilegal-lewat-medsos-warga-malaysia-ditangkap-polisi-qseBVbYx8N.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

BATAM - Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepulauan Riau (Kepri) berhasil mengamankan PR alias M, Warga Negara Malaysia, Rabu 22 Januari 2020. Wanita itu diamankan setelah kedapatan merekrut pekerja migran ilegal untuk dikirim ke Malaysia.

PR melakukan perekrutan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melalui media sosial. Kepada calon pekerja migran, tersangka menawarkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia dengan gaji yang cukup besar.

“Tersangka tidak memiliki izin untuk merekrut pekerja Indonesia,” kata Kepala Bidang Humas Polda Kepri, Kombes Harry Goldenhart di Mapolda Kepri, Jumat (24/1/2020).

Dua orang korban berhasil diselamatkan, yakni N diamankan dari daerah Nagoya, Batam dan P dari daerah Nongsa. Polisi turut mengamankan paspor tersangka dan korban, 3 lembar tiket Kapal Ferry tujuan dengan rute Batam-Stulang Laut, Johor, Malaysia, boarding pass, serta seunit handphone milik tersangka.

“Tersangka kita jerat dengan Pasal 81 dan 83 UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dengan ancaman penjara maksimal 10 tahun atau denda maksimal Rp15 miliar,” kata Harry. 

Baca Juga: Bareskrim Polri Bongkar Penampungan 23 TKI Ilegal di Depok

Ilustrasi

Di kesempatan yang sama, Direktur Reskrimum Polda Kepri, Kombes Arie Darmanto menjelaskan, tindak pidana perdagangan orang dan migran selalu berkaitan dengan eksploitasi. Penangkapan tersangka WNA merupakan awal yang baik dalam memberangus tindak pidana pekerja migran ilegal.

“Pengawasan kita sudah sangat ketat bagi para pelaku perekrutan migran ilegal dalam negeri sehingga mereka berpikir untuk melakukan sistem jemput bola. Kasus seperti ini sudah lama tapi tidak akan selesai, sehingga penyidik mencari tahu hingga akhirnya berhasil mengamankan pelaku,” kata Arie.

Menurut Arie, dengan diamankannya tersangka, maka pihak penyidik akan terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kasus ini. Ia menuturkan, tidak menutup kemungkinan akan ada para tersangka lain.

“Dengan terungkapnya WNA ini menjadikan perhatian bagi kita semua bahwa pelaku perekrutan migran ilegal tidak hanya WNI saja. Ini menjadi terobosan,” kata Arie.

Saat disinggung terkait sistem perekrutan yang dijalankan tersangka, Arie menjelaskan, setiap calon pekerja dikenakan biaya administrasi sebesar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Biaya tersebut digunakan untuk pembuatan dokumen seperti KTP, paspor dan lainnya.

”Sistemnya nanti potong gaji. Dan jenis pekerjaan serta nilai gaji yang akan diberikan tergantung dengan pesanan dari sana (Malaysia),” ujar Arie.

Baca Juga: Imigrasi Tolak Keberangkatan 130 WNI ke Luar Negeri Lewat Riau

Hingga saat ini, lanjut Arie, timnya masih melakukan penyidikan. ”Tim masih ada di lapangan. Mereka masih mengumpulkan informasi dan keterangan-keterangan guna mendalami kasus ini,” kata Arie.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini