nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Protes, Gedung Karantina Virus Korona di Hong Kong Diserang Bom Molotov

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 15:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 27 18 2158958 warga-protes-gedung-karantina-virus-korona-di-hong-kong-diserang-bom-molotov-P4XeJ4mSfE.jpg Demonstran di Hong Kong membakar gedung yang akan digunakan sebagai fasilitas karantina pasien virus korona. (Foto: Reuters)

HONG KONG – Pengunjuk rasa yang mengenakan masker melemparkan bom molotov ke sebuah gedung yang akan digunakan Pemerintah Hong Kong untuk mengkarantina orang-orang yang diduga terinfeksi dan membutuhkan pengujian terkait virus korona yang mewabah.

Pada Minggu, 26 Januari, delapan orang di Hong Kong telah didiagnosis terinfeksi penyakit yang berasal dari Kota Wuhan, China, bertambah tiga pasien dari yang dilaporkan sebelumnya. Hong Kong telah menyatakan keadaan darurat terkait wabah virus mematikan itu dan meluncurkan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran infeksi.

BACA JUGA: Hong Kong Umumkan Situasi Darurat Wabah Virus Korona

Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memesan bangunan perumahan umum kosong yang baru dibangun di daerah Fanling sebagai area karantina cadangan untuk orang-orang yang mungkin telah menjalin kontak dengan pasien terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala penyakit tersebut.

Namun keputusan itu memicu protes dari beberapa warga setempat yang khawatir bangunan itu akan menimbulkan ancaman kesehatan masyarakat. Pada Minggu, beberapa warga lokal menyampaikan penolakan mereka secara ekstrem dengan menggunakan bom api, demikian diwartakan Russia Today.

Setelah insiden itu, otoritas kesehatan Hong Kong mengatakan rencana penggunaan gedung tersebut sebagai lokasi karantina telah ditangguhkan. Beberapa bangunan lain di lokasi yang lebih terpencil telah disiapkan untuk tujuan yang sama.

BACA JUGA: Virus Misterius Pneumonia Mewabah, WNI di Hong Kong Diimbau Hindari Pasar Unggas

Di tengah wabah virus korona, pemerintah Hong Kong telah mendapat tekanan yang besar, termasuk dengan ancaman serikat staf medis agar perbatasan kota itu ditutup atau mereka akan melakukan mogok.

Kota itu juga berusaha untuk menyediakan perumahan sementara yang terisolasi bagi petugas medis yang bekerja dengan pasien yang terinfeksi dan yang ingin tinggal terpisah dari keluarga mereka sampai ancaman ditangani.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini