nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump Ajukan "Kesepakatan Abad Ini", Palestina Siap Buat Gerakan ke PBB

Kamis 30 Januari 2020 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 30 18 2160716 trump-ajukan-kesepakatan-abad-ini-palestina-siap-buat-gerakan-ke-pbb-kJarcp7L4d.jpg Foto: Reuters.

RAMALLAH - Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas akan datang ke Dewan Keamanan PBB pada Februari 2020 untuk menyampaikan reaksi dan respons Palestina terhadap Rencana Perdamaian Timur Tengah, Presiden Donald Trump.

Dalam dua pekan mendatang, Abbas akan melakukan serangkaian langkah diplomasi putaran diplomasi. Diawali dengan pertemuan menteri luar negeri Liga Arab di Kairo pada Sabtu, 1 Februari 2020, dilanjutkan pertemuan dengan para menteri di Organisasi Kerja Sama Islam OKI, Gerakan Non-Blok NAM dan KTT Uni Afrika.

BACA JUGA: Luncurkan Rencana Perdamaian Timteng, Trump Janjikan Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

“Konsultasi-konsultasi ini akan mencapai puncaknya ketika Presiden Abbas berkunjung ke Dewan Keamanan PBB dalam dua pekan ke depan, di mana ia akan menyampaikan kepada komunitas internasional, reaksi rakyat dan kepemimpinan Palestina terhadap serangan hak nasional rakyat Palestina oleh pemerintahan Trump,” ujar Duta Besar Palestina Untuk PBB Riyad Mansour pada wartawan, Rabu pagi, 29 Januari 2020.

Mansour mengatakan mereka juga berharap dapat menyampaikan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB, meskipun ia tidak merinci apa tujuan resolusi itu.

“Tentu saja kami juga ingin melihat tentangan yang kuat dan luas terhadap rencana Trump ini, dan mencerminkan bahasa konsensus global,” tambahnya sebagaimana dilansir VOA, Kamis (30/1/2020).

BACA JUGA: Tolak Rencana Trump, Presiden Palestina: Seribu Kata Tidak untuk "Kesepakatan Abad ini"

Kepemimpinan Palestina sangat marah dengan dirilisnya rencana yang disebut sebagai “kesepakatan abad ini” itu pada Selasa, 28 Januari 2020.

Rencana tersebut sudah dipersiapkan sejak lama oleh pemerintah Trump untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Namun, pihak Palestina menyebut rencana itu sebagai sebuah konspirasi dan hanya menguntungkan Israel.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini