Sekjen PBB Sebut 'Angin Gila' Sedang Melanda Dunia

Rachmat Fahzry, Okezone · Kamis 06 Februari 2020 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 06 18 2164190 sekjen-pbb-angin-gila-melanda-dunia-yXB6C9JxHJ.jpg Sekjen PBB Antonio Gutteres. (Foto/Twitter)

JENEWA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengemukakan pandangan serius tentang keadaan dunia saat ini, dengan mengatakan bahwa "angin kegilaan melanda dunia".

"Eskalasi kembali," kata Guterres, mengutip NPR, Kamis (6/1/2020) merujuk konflik yang berkobar di Yaman, Libya dan Suriah.

Pandangan Guteres disampaikan dalam sebuah pidato untuk menguraikan prioritasnya pada tahun ini sekaligus menyambut peringatan ke-75 PBB.

Dalam pidato itu ia juga menyinggung bahwa negara-negara anggota sudah tidak menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB.

Padahal menurut Guteres, DK PBB bertujuan memutus lingkaran setan penderitaan dan konflik serta mendorong gelombang diplomasi perdamaian.

"Keresahan di jalan-jalan dan alun-alun di seluruh dunia adalah bukti bahwa orang ingin didengar. Mereka ingin para pemimpin dunia menjawab kegelisahan mereka dengan tindakan yang efektif," ujar Guteres.

Keadaan dunia saat ini ditentukan oleh tantangan berjenjang dan "lingkaran setan" yang mengancam perdamaian dan keamanan, kata Sekjen PBB. Dan konflik yang muncul saat ini, tambahnya, lebih lama, lebih mematikan dan lebih sering terjadi.

Kondisi iklim

Isi pidato Guteres sebagian membahas memburuknya kondisi iklim. Ia mencatat bahwa suhu laut dunia dan rata-rata permukaan laut telah mencapai rekor tertinggi baru.

"Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa suhu laut sekarang naik, setara dengan lima bom Hiroshima per detik," katanya.

Guteres menyampaikan umat manusia menghadapi tantangan lain di darat, yang mencantumkan permafrost (tanah membeku) yang menyusut dan mencairnya tundra (daerah tanpa pohon) sebagai dua faktor yang akan mengirim jumlah besar metana, gas rumah kaca ke atmosfer.

Guterres mengatakan asap dari kebakaran besar di Australia merupakan lingkaran setan harfiah yangmengelilingi dunia, melepaskan setara sebanyak enam bulan dari total emisi karbon negara itu pada tahun 2018.

"Apa yang terjadi di Australia dapat terjadi di belahan dunia mana pun," ujar Guteres.

Setelah menyampaikan ringkasan mengerikan tentang keadaan dunia ini, Guterres mengulurkan harapan.

"Ada beberapa kabar baik," katanya, menambahkan bahwa semakin banyak orang yang menyadari risiko akibat perubahan iklim.

Ia mencatat bahwa pemerintah dan sektor swasta mengubah kebijakan mereka dan menginvestasikan uang untuk melindungi lingkungan.

Guterres juga meminta negara-negara anggota PBB untuk memutus lingkaran setan kemiskinan dan ketidaksetaraan serta untuk membentuk globalisasi yang adil. (fzy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini