Banjir Melanda Pidie Jaya Aceh, Ribuan Rumah Terendam

Windy Phagta, Okezone · Rabu 29 April 2020 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 29 340 2206533 banjir-melanda-pidie-jaya-aceh-ribuan-rumah-terendam-cwpbF4oHGJ.jfif ilustrasi (Okezone)

BANDA ACEH – Ribuan rumah di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh terendam banjir, akibat hujan deras mengguyur wilayah itu. Belum ada laporan korban jiwa.

"Arus banjir deras, petugas kita sedang melakukan pendataan di lapangan," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Sunawardi dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2020).

Banjir terjadi, Selasa malam hingga Rabu dini hari tadi, akibat meluapnya Krueng (Sungai) Meureudu menyusul tingginya debit air setelah diguyur hujan deras sejak siang kemarin. Belasan gampong atau desa sepanjang aliran sungai itu terendam.

Di Meurah Dua, gampong-gampong yang banjir di antaranya Meunasah Mancang, Meunasah Raya, Dayah Kruet, Blang Cut, Pante Beureune. Kemudian di Kecamatan Meureudu yang merupakan Ibu Kota Pidie Jaya, desa banjir di antaranya Meunasah Lhok, Beurawang, dan Mesjid Tuha.

BPBA mencatat ketinggian air bervariasi dari 0,8 hingga 1,2 meter. Saat banjir melanda, warga sibuk menyelamatkan barang-barang berharga dalam rumah. Tim SAR gabungan ikut membantu mengevakuasi warga.ilustrasi

Ketua Fraksi PPP Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Ihsanuddin Marzuki meninjau langsung desa-desa terparah diterjang banjir, Selasa malam hingga Rabu dini hari. Dia memberikan bantuan kepada masyarakat untuk kebutuhan sahur.

Baca juga: Muara Sungai Tertutup, Warga Ulim Menderita karena Banjir

“Karena rata-rata dapur rumah masyarakat terendam banjir sehingga masyarakat tidak bisa memasak untuk sahur,” kata legislator asal Kecamatan Ulim, Pidie Jaya ini kepada Okezone.

Desa-desa sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu memang sangat sering banjir. “Menurut keterangan dari masyarakat dalam setahun 6 sampai 7 kali banjir,” ujar Ihsanuddin.

Menurut Ihsanuddin, banjir terjadi akibat adanya pembalakan liar atau illegal logging di sekitar hulu serta pendangkalan Sungai Meureudu. 

“Kita harapkan kepada pemerintah dalam hal ini Balai Wilayah Sungai Sumatera untuk segera melakukan normalisasi Krueng Meureudu,” katanya.

Dalam beberapa kali Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang), lanjut Ihsanuddin, sudah beberapa kali disurati Balai Wilayah Sungai Sumatera agar menormalisasi Krueng Meureudu, tapi sampai kini belum ada tindak lanjutnya.

Ihsanuddin menegaskan, Sungai Meureudu berada dalam kewenangan Balai Wilayah Sungai sehingga normalisasinya tidak bisa menggunakan anggaran daerah, melainkan APBN.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini