Polisi: 'Tak sengaja'
Insiden penembakan terjadi pada 29 September 2019 ketika Veby melakukan Facebook live untuk media tempat ia bekerja, Suara Hong Kong News.
Pelaporan langsung melalui Facebook ini ia lakukan di jembatan penyeberangan di Wan Chai, yang terhubung dengan gedung Immigration Tower.
Tembakan dengan peluru karet ini menyebabkan mata kanan Veby kini tidak bisa melihat.
Dalam wawancara dengan The South China Morning Post pada Desember 2019, Veby mengatakan ia tadinya mengira tembakan ini akan mengakhiri hidupnya.
"Mereka menenangkan saya dan meminta saya untuk tidak tertidur," kata Veby.
Ia menuturkan setelah terkena tembakan dan tersungkur, ada tim pertolongan pertama pada kecelakaan yang membantu dirinya, termasuk meminta ia adar tetap tersadar.
Ia menjalani perawatan di rumah sakit dan dokter mengatakan mata kanannya tak bisa lagi difungsikan dan ia harus tergantung dengan mata kirinya.
Sehari setelah insiden, kepolisian Hong Kong menggelar keterangan pers dan mengatakan bahwa polisi bisa melihat ada wartawan di jembatan penyeberangan.
"Namun ada pula demonstran beringas yang menyerang polisi ... rekan-rekan polisi ketika itu tak punya pilihan [dan] menggunakan kekuatan untuk mengatasi keadaan," kata Tse Chun-chung, pejabat kepolisian Hong Kong.
"Saya yakin ia tidak menembak wartawan dengan sengaja," katanya.
Veby mengungkapkan insiden ini meninggalkan trauma, yang membuatnya kadang terbangun di malam hari.
Atas kejadian ini, Veby menggugat polisi Hong Kong, gugatan yang ia gambarkan sebagai "selain untuk menegakkan keadilan, juga demi para korban unjuk rasa di Hong Kong".
Ia juga mengatakan mestinya anggota polisi yang menembak dirinya ditindak.
Hong Kong dilanda gelombang unjuk rasa setelah pemerintah mengeluarkan rancangan aturan yang memungkinkan warga Hong Kong diadili di China daratan.
Aksi antipemerintah kemudian berkembang menjadi gerakan yang ditujukan untuk memastikan Hong Kong tetap menghormati prinsip-prinsip demokrasi.
Protes tahun lalu sering diwarnai kerusuhan dan lebih dari 8.000 pengunjuk rasa ditahan.
(Rachmat Fahzry)