Demonstrasi Anti-Pemerintah Pecah di Lebanon Pasca Ledakan Beirut

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 07 Agustus 2020 09:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 18 2258351 demonstrasi-anti-pemerintah-pecah-di-lebanon-pasca-ledakan-beirut-1F6M9bABIu.jpg Demonstrasi anti-pemerintah di Beirut, Lebanon. (Foto: AP)

BEIRUT – Unjuk rasa anti pemerintah pecah di Lebanon pada Kamis, (6/8/2020), beberapa hari setelah ledakan dahsyat yang mengguncang Ibu Kota Beirut. Pengunjuk rasa terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan Lebanon dalam demonstrasi di ibu kota.

Petugas keamanan menembakkan gas air mata ke puluhan orang di dekat parlemen.

Diwartakan BBC, para pengunjuk rasa marah dengan ledakan dahsyat pada Selasa (4/8/2020), yang menurut para pejabat disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman sejak 2013. Banyak orang di Lebanon mengatakan bahwa kelalaian pemerintah menyebabkan ledakan, yang menewaskan sedikitnya 137 orang dan melukai sekitar 5.000 lainnya.

BACA JUGA: Korban Tewas Ledakan Beirut Capai 135, Lebanon Tahan Beberapa Pejabat Pelabuhan

Ledakan itu menghancurkan seluruh distrik di ibu kota, dengan rumah dan bisnis hancur menjadi puing-puing. Puluhan orang masih belum ditemukan.

Kantor berita Lebanon mengatakan 16 orang telah ditahan sebagai bagian dari penyelidikan yang diumumkan oleh pemerintah minggu ini.

Sejak bencana tersebut dua pejabat mengundurkan diri. Anggota parlemen Marwan Hamadeh mengundurkan diri pada Rabu (5/8/2020), sementara duta besar Lebanon untuk Yordania, Tracy Chamoun mengundurkan diri pada Kamis, mengatakan bencana itu menunjukkan perlunya pergantian kepemimpinan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan ke Lebanon pada Kamis, dan mengatakan bahwa Lebanon memerlukan perubahan mendalam dari pihak berwenang. Macron juga meminta digelarnya penyelidikan internasional terkait ledakan itu.

BACA JUGA: Korban Tewas Ledakan Beirut Capai 135, Lebanon Tahan Beberapa Pejabat Pelabuhan

Ledakan itu terjadi pada saat yang sensitif bagi Lebanon. Dengan meningkatnya infeksi Covid-19, rumah sakit sudah berjuang untuk mengatasinya. Sekarang, mereka dihadapkan dengan perawatan ribuan orang yang terluka.

Lebanon juga mengalami krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990, dan ketegangan sudah tinggi dengan demonstrasi jalanan melawan pemerintah. Orang-orang harus berurusan dengan pemadaman listrik harian, kurangnya air minum yang aman dan layanan kesehatan masyarakat yang terbatas.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini