Korban Tewas Ledakan Beirut Capai 135, Lebanon Tahan Beberapa Pejabat Pelabuhan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 06 Agustus 2020 08:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 18 2257728 korban-tewas-ledakan-beirut-capai-135-lebanon-tahan-beberapa-pejabat-pelabuhan-mZ9Shv1lcK.jpg Foto: EPA.

BEIRUT - Sejumlah pejabat pelabuhan Beirut, Lebanon ditempatkan di bawah tahanan rumah sambil menunggu penyelidikan terkait ledakan besar yang terjadi pada Selasa (4/8/2020). Ledakan itu menewaskan sedikitnya 135 orang dan melukai lebih dari 4.000 lainnya.

Presiden Michel Aoun mengatakan ledakan itu disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman di sebuah gudang. Amonium nitrat digunakan sebagai pupuk dalam pertanian dan sebagai bahan peledak.

Kepala Bea Cukai Badri Daher mengatakan, pihaknya menyerukan agar bahan kimia itu dipindahkan, tetapi hal itu tidak dilakukan.

"Kami serahkan kepada ahli untuk menentukan alasannya," katanya.

BACA JUGA: Dahsyatnya Ledakan di Beirut Picu Gempa Bumi, Guncangan Dirasakan Sampai Siprus

Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon telah berjanji bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kejadian itu akan menghadapi "hukuman maksimum" yang mungkin diberikan.

"Saya pikir itu tidak kompeten dan manajemen sangat buruk dan ada banyak tanggung jawab dari manajemen dan mungkin pemerintah sebelumnya. Setelah ledakan seperti itu kami tidak berniat untuk tetap diam mengenai siapa yang bertanggung jawab," kata Menteri Ekonomi Raoul Nehme kepada BBC.

Sementara Menteri Penerangan Manal Abdel Samad mengatakan bahwa penahanan rumah akan berlaku bagi semua pejabat pelabuhan "yang telah menangani urusan penyimpanan amonium nitrat, menjaga dan mengurus dokumennya" sejak Juni 2014.

BACA JUGA: Ledakan Beirut Mungkin Disebabkan Pekerjaan Pemeliharaan di Pelabuhan

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Amonium nitrat itu tiba dengan kapal Rhosus yang berbendera Moldova pada 2014. Kapal itu memasuki pelabuhan Beirut setelah mengalami masalah teknis selama pelayarannya dari Georgia ke Mozambik.

Menurut laporan Shiparrested.com, yang berurusan dengan kasus hukum kapal, Rhosus diinspeksi, dilarang pergi dan tak lama kemudian ditinggalkan oleh pemiliknya, memicu beberapa tuntutan hukum. Kargonya disimpan di gudang pelabuhan untuk alasan keamanan.

Kargo yang disimpan di gudang itulah yang kemudian tersulut percikan api ketika pekerjaan pemeliharaan dilakukan pelabuhan, mengakibatkan ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian Ibu Kota Beirut.

Membuka pertemuan kabinet darurat pada Rabu, Presiden Aoun mengatakan: "Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kengerian yang telah melanda Beirut semalam, mengubahnya menjadi kota yang dilanda bencana".

Ledakan itu terjadi pada saat yang sensitif bagi Lebanon. Dengan meningkatnya infeksi Covid-19, rumah sakit sudah berjuang untuk mengatasinya. Sekarang, mereka dihadapkan dengan perawatan ribuan orang yang terluka.

Lebanon juga mengalami krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990, dan ketegangan sudah tinggi dengan demonstrasi jalanan melawan pemerintah. Orang-orang harus berurusan dengan pemadaman listrik harian, kurangnya air minum yang aman dan layanan kesehatan masyarakat yang terbatas.

Negara itu mengimpor sebagian besar makanannya dan sejumlah besar biji-bijian yang disimpan di pelabuhan telah hancur yang menyebabkan kekhawatiran akan kerawanan pangan yang meluas. Masa depan pelabuhan itu sendiri diragukan karena kerusakan yang ditimbulkan.

Presiden Aoun mengumumkan bahwa pemerintah akan mengeluarkan 100 miliar lira dana darurat tetapi dampak ledakan pada ekonomi diperkirakan akan bertahan lama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini