Palestina Kecam Kesepakatan Damai UEA-Israel Sebagai Pengkhianatan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 14 Agustus 2020 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 18 2262027 palestina-kecam-kesepakatan-damai-uea-israel-sebagai-pengkhianatan-wMyWt25kZ8.jpg Foto: Reuters.

RAMALLAH – Otoritas Palestina mengecam perjanjian damai dan normalisasi hubungan yang disepakati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan Israel, menyebutnya sebagai “pengkhianatan”. Palestina juga menuding ada kesepakatan rahasia antara UEA dan Israel di balik langkah tersebut.

Kesepakatan damai itu diumumkan secara mendadak oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang membantu menengahi pembicaraan kedua negara.

Dalam keterangan pers yang disampaikan di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa kesepakatan antara Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Al Nahyan itu "momen yang benar-benar bersejarah" dan terobosan menuju perdamaian.

BACA JUGA: UEA dan Israel Sepakati Perjanjian Damai, Normalisasi Hubungan

Sebagai syarat kesepakatan itu, Israel setuju untuk menunda rencananya untuk mencaplok bagian Tepi Barat yang diduduki. Namun, kesepakatan itu mengejutkan para pemimpin Palestina, yang menganggapnya sebagai sebuah pengkhianatan.

"Pimpinan Palestina menolak tindakan pemerintah Emirat, menganggap itu pengkhianatan terhadap rakyat Palestina dan Yerusalem dan al-Aqsa," kata Juru Bicara Otoritas Palestina Nabil Abu Rudeineh dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di TV Palestina sebagaimana dilansir Times of Israel.

Abu Rudeineh menuduh UEA "melakukan normalisasi (dengan Israel) dengan kedok mendukung perjuangan Palestina".

Palestina juga telah menarik duta besarnya dari Abu Dhabi sebagai bentuk protes terhadap langkah UEA tersebut.

BACA JUGA: Yordania Pertimbangkan Kembali Perjanjian Damainya dengan Israel

Pejabat senior Palestina, Hanan Ashrawi, mengatakan UEA harus jujur dan mengungkap secara terbuka mengenai kesepakatan rahasia dalam langkah normalisasi hubungannya dengan Israel, dan menyebut bahwa Palestina telah “dijual” kepada Israel oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Al Nahyan.

Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, mengatakan pengakuan negaranya atas Israel adalah "langkah yang sangat berani" untuk menghentikan "bom waktu" dari aneksasi Israel di Tepi Barat. Dia mengatakan bahwa UEA melihat langkah ini sebagai "penghentian aneksasi, bukan penangguhan".

Ditanya tentang kritik Palestina terhadap langkah UEA, Gargash mengatakan bahwa dia menyadari bahwa wilayah itu sangat terpolarisasi dan dia berharap mendengar "keributan yang biasa" mengenai kesepakatan itu.

"Kami tersisa karena langkah ini," katanya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini