Share

Mengenal Sosok Soedarsono, Dokter dan Menteri Dalam Negeri Pada Kabinet Sjahrir

Fathnur Rohman, Okezone · Selasa 18 Agustus 2020 01:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 17 525 2263586 mengenal-sosok-soedarsono-dokter-dan-menteri-dalam-negeri-pada-kabinet-sjahrir-rqWVQQU5Gc.jpg Tugu Proklamasi di Cirebon (Foto : Okezone.com/Fathnur)

CIREBON - Dua hari sebelum kemerdekaan Indonesia, momen bersejarah pernah terjadi di Kota Cirebon, Jawa Barat. Tepatnya, pada tanggal 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi (sekarang menjadi RSD Gunung Jati), membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibuat oleh Sutan Sjahrir.

Kala itu, Soedarsono diminta segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia oleh Sutan Sjahrir, setelah mendengar berita kekalahan Jepang melalui siaran radio BBC pada tanggal 14 Agustus 1945. Permintaan tersebut dilatar belakangi oleh kekecewaan Sjahrir, karena Soekarno menolak keinginannya untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin.

Padahal, setelah munculnya berita kekalahan Jepang dari pihak Sekutu, Sjahrir sudah berusaha menyiapkan gerakannya untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

Gerakan yang disiapkan Sjahrir melibatkan beberapa tokoh pemuda ternama. Salah satunya adalah Soedarsono. Tokoh yang dimintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Nama Soedarsono sendiri sebenarnya sudah tidak asing ditelinga masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Sebab, nama Soedarsono sudah diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kota Cirebon.

Sejarawan Cirebon, Mustaqim Asteja menjelaskan, Soedarsono merupakan tokoh terkenal dan berpengaruh pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Bahkan, nama Soedarsono masuk dalam arsip dokumen 'Pendaftaran Orang Indonesia Jang Terkemoeka Djang Ada Di Djawa', yang dibuat oleh pihak Jepang.

Berdasarkan arsip dokumen itu, kata Mustaqim, Soedarsono lahir di daerah Salatiga, Jawa Tengah, pada tanggal 9 Mei 1911. Soedarsono menghabiskan pendidikan sekolah dasarnya di Europeesche Lagere School atau ELS (Sekolah Pertama Eropa).

Setelah menamatkan pendidikan di ELS, Soedarsono kemudian melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan diteruskan ke Algemene Middelbare School (AMS).

Baca Juga : Peringati HUT Ke-75 RI, Masyarakat Upacara Bendera di Tengah Sungai Ciliwung

Baca Juga : Cerita Pasukan Semut, Gerombolan Anak-Anak Pencuri Senjata Tentara Belanda

Pada tanggal 3 Mei 1938, lanjut Mustaqim, Soedarsono akhirnya melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah kedokteran yang ada di Jakarta. Setelah lulus dari sekolah kedokteran itu, Soedarsono akhirnya berkarir menjadi seorang dokter dan diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Kesambi (sekarang menjadi RSD Gunung Jati).

"Kenapa menjadi orang-orang ternama? Yang namanya dokter Soedarsono itu sejak zaman Belanda aktif pada dinas kesehatan. Untuk mengendalikan penyakit pada masyarakat waktu itu," kata Mustaqim saat berbincang dengan Okezone, di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (17/8/2020).

"Pada tanggal 15 Agustus 1945, tokoh sipil yang pada saat itu (di Alun-Alun Kejaksaan) di antaranya dokter Soedarsono yang menonjol. Semenjak zaman Jepang namanya sudah dicatat sebagai tokoh di Cirebon. Konon beliau adalah tokoh gerakan sosial yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir," tambahnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Mustaqim melanjutkan, Soedarsono pernah tinggal di sebuah rumah di Jalan Kesambi Nomor 43 Kota Cirebon. Ia tinggal bersama dengan istrinya yang bernama Moesfiah. Dari pernikahannya dengan Moesfiah, Soedarsono kemudian dikaruniai empat orang anak sampai masa pendudukan Jepang tahun 1942. Salah satu anaknya bernama Juwono Sudarsono, yang kelak menjadi seorang diplomat,

akademisi dan politisi ulung serta pejabat menteri di era pemerintahan 5 presiden yakni Presiden Soeharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada masa pendudukan Jepang, pendapatan Soedarsono yang menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Kesambi hanya sebesar 300 golden. Selain menjadi dokter, Soedarsono juga diketahui aktif menjadi anggota organisasi pemuda bernama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

"dokter Soedarsono pernah masuk ke Perkumpulan Pemuda. Dan menjabat Penulis, Ketua Pemuda Indonesia 1928 - 1929," ujar Mustaqim.

Nama Soedarsono dikenal luas dan masuk sebagai tokong berpengaruh dalam arsip dokumen yang dibuat Jepang, tidak lain karena ia aktif dalam organisasi pemuda itu. Bahkan, ia juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Indonesia Muda pada tahun 1933.

Pernah Menjabat Sebagai Menteri Dalam Negeri Dalam Kabinet Sjahrir II

Diterangkan Mustaqim, Soedarsono menjadi salah satu tokoh menonjol dalam gerakan sosial yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Oleh karena itu, pengaruh dan namanya sangat diperhatikan pihak Jepang kala itu.

Saat Jepang menyerah pada Sekutu, pergerakan dari para pemuda di seluruh daerah mulai muncul. Terutama di Kota Cirebon. Waktu itu, sambung Mustaqim, ketika Sukarno menolak untuk segera memrpoklamirkan kemerdekaan Indonesia, Sjahrir kemudian meminta Soedarsono supaya melakukan proklamasi di Alun-Alun Kejaksan Kota Cirebon, pada tanggal 15 Agusgus 1945.

Tidak butuh waktu lama, Soedarsono beserta para pemuda di Cirebon di tanggal 15 Agustus 1945, akhirnya mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri.

"Peristiwa 15 Agustus di Cirebon termasuk dalam upaya masyarakat Cirebon yang ingin Indonesia merdeka. Bebas dari penjajahan. Tapi tetap yang diakui adalah Proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus," bebernya.

Berdasarkan informasi yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber, ada versi lain yang menceritakan bagaimana proses pembacaan naskah proklamasi buatan Sjahrir oleh Soedarsono.

Hadidjojo Nitimihardjo dalam bukunya 'Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan (2009)' mengisahkan, ketika berita kekalahan Jepang dari Sekutu sudah tersebar luas, di sebuah pengungsian di wilayah Palimanan, dengan inisiatif sendiri Soedarsono menemui Maroeto Nitimihardjo. Ia datang untuk meminta naskah proklamasi buatan Sjahrir yang dikatakan dititipkan kepada Maroeto.

Akan tetapi, saat ditemui Soedarsono, Maroeto mengaku tidak menyimpan naskah proklamasi buatan Sjahrir yang dikatakan dititipkan kepadanya.

Ketika mendengar kabar itu, Soedarsono sempat berang. Pasalnya, untuk menemui Maroeto, Soedarsono harus pergi ke wilayah Palimanan dengan menempuh jarak sekitar 60 kilometer hanya menggunakan sebuah sepeda.

Soedarsono yang sudah terlanjur datang, kemudian memutuskan pergi dari tempat Moeroto. Dari kisah ini, disebutkan bila Soedarsono lah yang menyusun naskah proklamasi dan membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Cirebon pada tanggal 16 Agustus 1945.

Selang beberapa waktu dan Indonesia sudah merdeka, Soedarsono yang sedari awal merupakan teman dan juga murid didikan Sjahrir dalam gerakan sosial, kemudian diangkat menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir I. Ia menjabat sejak 5 Desember 1945 hingga 12 Maret 1946. Kemudian, ia menjabat kembali sebagai Menteri Dalam Negeri mulai 12 Maret 1946 sampai 2 Oktober 1946. Soedarsono juga pernah menjadi Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III, untuk masa kerja Oktober 1946 sampai 27 Juni 1947.

Semangat Patriotisme Masyarakat Cirebon

Tugu Proklamasi yang terletak di Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Jawa Barat, merupakan simbol rasa syukur masyarakat Cirebon atas merdekanya Indonesia dari penjajah.

Tugu tersebut, dibangun untuk mempringati satu tahun pasca pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang dibacakan oleh presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945.

Mustaqim menuturkan, di bagian Tugu Proklamasi itu terdapat tulisan yang berbunyi 'Batoe pertama diletakkan pada tanggal 17-VIII-1946 Djam 10.30 oleh P. Toean Presiden Bersama Ketua Dewan Perdjoeangan Daerah Tjirebon sebagai lambang persatoean antara pemerintah dan ra'jat dalam perdjoeangan menegakkan Republik Indonesia yang 100 % merdeka'.

Dijelaskannya, tulisan yang berada di Tugu Proklamasi itu merupakan cerminan rasa patriotisme dan rasa cinta masyarakat Cirebon terhadap Indonesia. Bahkan, ia menggaris bawahi kalimat 'lambang persatoean antara pemerintah dan ra'jat dalam perdjoeangan menegakkan Republik Indonesia yang 100 % merdeka', yang dinilainya memiliki makna begitu dalam.

Menurutnya, tulisan itu bisa diartikan bahwa kemerdekaan yang diraih oleh para pejuang benar-benar dicapai dengan usaha dan kerja keras. Selain itu, kalimat 'Republik Indonesia yang 100 % merdeka' masih sangat relevan untuk digunakan pada masa ini.

Akan tetapi, meski menjadi monumen yang bersejarah, Tugu Proklamasi di Jalan Siliwangi Kota Cirebon ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat ataupun pemerintah kota setempat.

Padahal, menurut Mustaqim, Tugu Proklamasi ini bisa menjadi aset dan bukti sejarah, tentang bagaimana semangat dan rasa nasionalisme masyarakat Cirebon pada zaman dahulu sangat lah tinggi. Sehingga generasi muda saat ini bisa memetik pelajaran berharga dari tugu itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini