Beragam kisah pilu selama romusha, mulai dari para pekerja yang tak diberikan akses makanan dan minuman yang memadai hingga serangan nyamuk malaria yang kala itu cukup mematikan.
“Para pekerja ini tidak diberikan makan yang cukup, jadi hanya pekerja yang rajin saja yang diberikan makan, itupun terbatas. Sehingga keadaannya cukup memprihatinkan dan menderita. Banyak juga yang meninggal dunia karena kelelahan dan sakit terkena malaria,” paparnya.
Jejak kekejaman yang diterapkan lewat romusha ini diabadikan melalui suatu monumen di kawasan Terowongan Niyama yang dinamakan Monumen Sukamakmur. Monumen ini sendiri dibuat bersama rekonstruksi Terowongan Niyama pada 1986, untuk mengenang para korban romusha pembuatan parit dan terowongan.
Kini saluran air dan terowongan dikelola oleh PT Jasa Tirta 1. Hal ini diakui oleh seorang petugas Terowongan Niyama dari staf PT Jasa Tirta 1, Suprapto.
“Sekarang ini dikelola Jasa Tirta 1, sudah sejak tahun 1990-an. Memang saluran airnya itu dibangun saat penjajahan Jepang,” tukasnya.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.