Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Gempa Besar di Bengkulu, Masyarakat Diminta Beradaptasi

Demon Fajri , Jurnalis-Rabu, 19 Agustus 2020 |08:44 WIB
Sejarah Gempa Besar di Bengkulu, Masyarakat Diminta Beradaptasi
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

BENGKULU - Gempa tektonik mengguncang 2 kali Provinsi Bengkulu, pada Kamis (19/8/2020), pukul 05.23 WIB, dengan Magnitudo (M) 6,9 dan gempa kedua M6,8 terjadi pada pukul 05.29 WIB.

Di mana Bengkulu merupakan suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata sesar naik.

Sehingga provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini sering dilanda banyak gempa besar dengan kedalaman dangkal. Dari catatan sejarah gempa, daerah ini di dominasi gempa dengan mekanisme sesar naik.

Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda.

Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4.

''Bengkulu sering dilanda gempa karena dilalui dua segmen subduksi megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, kepada okezone, Kamis (19/8//2020).

Sejarah Gempa Besar di Bengkulu

Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat, pada Minggu 4 Juni 2000 dengan kekuatan Mw=7,3. Kemudian pada Rabu 12 September 2007 dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif berdekatan.

Dua gempa tersebut pada dasarnya dibangkitkan segmen megathrust yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. Sementara, gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai.

Ilustrasi

Segmen Enggano, terang Sabar, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada gempa besar melebihi M=7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskipun demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi.

''Adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk gempa-gempa kecil,'' terang Sabar.

Sementara, pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, jelas Sabar, selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.

Secara langsung gempa 2010, terang Sabar, memang tidak berdampak pada daerah Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat dibeberapa daerah. Seperti di Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu.

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, tambah Sabar, zona megathrust Mentawai-Pagai ini pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatam M=9,0.

Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk Bumi Rafflesia.

Akhir-akhir ini segmen Enggano kembali menunjukkan eksistensinya. Di mana pada Kamis (19/8/2020), terjadi gempa M=6,9 dan M=6,8.

Intensitas gempa itu maksimum mencapai IV MMI dirasakan di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma dan Kabupaten Kepahiang. Lalu, III MMI dirasakan di Kabupaten Bengkulu selatan, Kaur, Curup dan Kabupaten Lebong dan II-III MMI dirasakan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Di mana intensitas IV MMI ini, terang Sabar, berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga.

''Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,'' terang Sabar.

BMKG Pasang 5 WRS New Gen di Bengkulu

Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang rawan di guncang gempa dan gelombang tsunami. Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini terdapat dua sumber gempa bumi yang setiap saat bisa terjadi.

Sumber pertama, potensi gempa bumi yang terletak di wilayah lautan. Di mana batas pertemuan dua lempeng. Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, namanya. Lempeng Indo-Australia, relatif bergerak ke arah utara. Sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah Selatan.

Sehingga karakteristik gempa yang terjadi pada bagian laut ini memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Selain itu, gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan gelombang tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.

Selain potensi gempa dari lautan, daerah ini juga memiliki potensi gempa di wilayah daratan. Hal ini terjadi karena adanya sistem patahan lokal Sumatera yang melalui wilayah Bengkulu. Di mana ada tiga patahan lokal yang ada di wilayah Bengkulu.

Seperti patahan Musi (Segmen Musi) yang terletak di Kabupaten Kepahiang, patahan Manna (Segmen Manna) yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan patahan Ketahun (Segmen Ketahun). Karakteristik gempa bumi darat tersebut biasa terjadi dengan kekuatan lebih kecil dari pada gempa bumi di laut.

Dengan adanya tingkat kerawanan gempa yang berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, Stasiun Geofisika, Kelas III Kepahiang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, memasang Warning Receiver System (WRS) New Gen.

WRS itu, kata Sabar, di pasang dilima lokasi di Bengkulu. Seperti, di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kaur, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, dan Kantor Stasiun Geofisika, Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, di Kabupaten Kepahiang.

''Ada 315 lokasi pemasangan WRS di seluruh Indonesia, di Bengkulu ada 5 lokasi pemasangan WRS. WRS New Gen ini inovasi BMKG dalam penyebaran data dan informasi gempa bumi dan tsunami,'' kata Sabar.

WRS New Gen Bersifat Real Time Otomatis Dari BMKG

Sabar mengatakan, WRS New Gen merupakan peralatan penerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami berupa smart display. Sehingga menjamin stakeholder menerima informasi gempa dan peringatan dini tsunami guna mengambil langkah selanjutnya.

Perbedaan dan kelebihan WRS New Gen, jelas Sabar, adanya informasi gempa bumi real time. Hal ini merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempa dan peringan dini tsunami yang memberikan informasi gempa secara lebih cepat.

''WRS New Gen ini bersifat real time otomatis dari BMKG,'' imbuh Sabar.

Foto: Shutterstock

Pemasangan 5 WRS, sambung Sabar, juga untuk memperluas jangkauan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Di mana, kata Litman, sistem WRS New Gen ini akan termonitor secara langsung di BMKG Pusat, secara berkelanjutan selama 24/7.

Sehingga, lanjut Sabar, tingkat keberhasilan penyebaran informasi gempa dan informasi peringatan dini tsunami dari BMKG, kepada lembaga perantara atau institusi interface berjalan optimal dan dapat diterima dengan tepat sasaran.

Di mana, terang Sabar, media komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan informasi berupa komunikasi IP to IP yang bersifat dua arah, dari server dapat menjangkau ke client dan sebaliknya.

''Dengan jenis komunikasi dua arah ini, memungkinkan memantau status kesehatan dari perangkat secara remote dari Jakarta,'' jelas sabar.

Tujuan pemasangan sistem diseminasi (WRS New Gen), sampai Sabar, terpasangnya perangkat Warning Reciever System (WRS) New GenClient di 315 lokasi di wilayah potensi gempa bumi dan tsunami.

Selain itu, kata Sabar, terbangunnya sistem diseminasi informasi WRS terintegrasi dan termonitor setiap waktu 24/7. Lalu, terjaganya tingkat keberhasilan penyebaran informasi WRS ke lembaga interface diatas 90 persen.

''Sasaran pemasangan sistem Diseminasi (WRS New Gen) meningkatkan layanan mitigasi gempa bumi dan tsunami, dan memperluas jangkauan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami,'' ujar Sabar.

Jadikan Evakuasi Mandiri sebagai Budaya

Sabar mengatakan, sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga bencana. Sebab, secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun gempa besar.

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas Sabar.

Oleh karena itu, imbau Sabar, seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selain itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama sekira >60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai, saat terjadi gempa kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.

''Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement