BEIRUT – Tim penyelamat di Beirut mengatakan telah mendeteksi kemungkinan detak jantung di bawah puing-puing bangunan yang hancur akibat ledakan dahsyat yang terjadi sebulan lalu, pada 4 Agustus 2020.
Seekor anjing pelacak dilaporkan memberi tahu penyelamat akan keberadaan orang yang mungkin masih selamat di bawah puing bangunan, memicu pencarian besar-besaran. Jika ditemukan dalam keadaan hidup, berarti orang itu telah terjebak di bawah reruntuhan selama 29 hari.
Peralatan sensor spesialis telah dibawa ke area Mar Mikhael menyusul laporan yang belum dikonfirmasi bahwa detak jantung terdeteksi.
BACA JUGA: Masih Hidup, Seorang Pria Ditemukan di Laut 30 Jam Setelah Ledakan Beirut
"Ini (tanda-tanda pernapasan dan denyut nadi) bersama dengan sensor suhu berarti ada kemungkinan adanya kehidupan," kata petugas penyelamat Eddy Bitar kepada wartawan sebagaimana dilansir Mirror, Jumat (4/9/2020).
Dia menambahkan satu unit pertahanan sipil telah dipanggil untuk membantu dengan peralatan tambahan untuk melakukan pencarian. Petugas penyelamat dengan jaket cerah memanjat gedung yang runtuh dalam ledakan itu.
Massa berkumpul di sekitar gedung sementara tim pencarian dan penyelamat menggali reruntuhan untuk menemukan sumber detak jantung.
BACA JUGA: Teori Konspirasi Beredar Pasca Ledakan Beirut, Berikut Beberapa di Antaranya
Media lokal mengatakan setiap upaya pencarian dan penyelamatan, jika diketahui bahwa seseorang masih hidup, kemungkinan akan memakan waktu berjam-jam.
Tim penyelamat Chile, yang tiba di Lebanon tiga hari lalu untuk membantu upaya pencarian, juga terlibat memilah puing untuk menemukan penyintas yang mungkin masih terkubur. Daily Star melaporkan, tim yang sama dilaporkan menyelamatkan seorang pria di Haiti 27 hari setelah dia terjebak oleh gempa bumi.