Serba-Serbi Pilpres AS 2020, Mengenal Electoral College dan Swing States

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 28 September 2020 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 18 2285049 serba-serbi-pilpres-as-2020-mengenal-electoral-college-dan-swing-states-9YK85NCBKn.jpg Foto: Military.com

PEMILIHAN Presiden Amerika Serikat (AS) 2020 akan dimulai dalam sebulan mendatang. Perhelatan politik di Negeri Paman Sam ini menjadi tonggak baru bagi warga Amerika, dan hasilnya akan berdampak besar pada komunitas internasional.

Sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, Amerika Serikat menganut sistem federal dengan sistem pemilihan yang sedikit berbeda dari negara demokrasi yang menganut sistem parlementer dan presidensial, termasuk Indonesia.

Menurut Dekan Sekolah Kebijakan dan Pemerintahan Schar di Universitas George Mason, Mark J. Rozell, Amerika Serikat menggunakan apayang dikenal sebagai staggered elections, di mana pemilihan umum digelar beberapa kali dalam jangka waktu tertentu.

BACA JUGA: Konvensi Partai Republik Akan Calonkan Trump untuk Masa Jabatan Kedua

Setiap dua tahun, Amerika Serikat menggelar pemungutan suara untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mewakili distrik, dan senator untuk duduk di Kongres. Sementara anggota dewan perwakilan memiliki masa jabatan dua tahun, senator memiliki masa jabatan enam tahun, sehingga tiap dua tahun, warga Amerika Serikat memilih sepertiga dari anggota Kongres.

“Untuk siklus pemilihan ini, kami akan memilih, presiden dan wakil presiden, seluruh Dewan Perwakilan Rakyat dan sepertiga dari kursi terbuka atau diperebutkan di Senat, sedangkan dua pertiga masih menjalani sisa masa jabatan mereka, melewati tahun ini,” kata Dr. Rozell kepada jurnalis internasional dimana Okezone terpilih mewakili Indonesia. .

BACA JUGA: Joe Biden Resmi Ditunjuk Sebagai Calon Presiden AS dari Partai Demokrat

Pemilihan presiden AS sendiri adalah sebuah pemilihan yang memiliki beberapa tahapan. Para kandidat dari masing-masing partai, Partai Demokrat dan Partai Republik, bersaing mendapatkan nominasi melalui serangkaian pemilihan pendahuluan yang digelar di berbagai negara bagian. Kedua partai besar itu kemudian menggelar konvensi nasional untuk secara resmi menentukan pilihan kandidat mereka.

Proses nominasi dimulai dengan serangkaian apa yang disebut pemilihan pendahuluan dan beberapa kaukus selama periode waktu beberapa bulan. Ini adalah kompetisi negara bagian di mana para pemilih biasanya memberikan suara untuk kandidat pilihan mereka.

Kandidat yang mendapatkan delegasi terbanyak, dari hasil pemungutan suara di negara-negara bagian ini dicalonkan sebagai presiden pada pemungutan suara pertama di konvensi partai nasional.

Electoral College 

Sebagai negara federal, Amerika Serikat memiliki sisi unik dalam sistem pemilihan presiden mereka, yang dilakukan per negara bagian, tidak berdasarkan pemungutan suara populer, yang didasarkan pada suara terbanyak. Karena sistem inilah ada yang disebut sebagai Electoral College dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Electoral College adalah lembaga pemilu akhir yang diisi oleh orang-orang pilihan dari masing-masing negara bagian. Mereka akan memberikan keseluruhan suara di Negara Bagian itu kepada calon presiden yang mendapatkan suara terbanyak di sana.

“Kami memiliki apa yang disebut sistem “pemenang per Negara Bagian mendapatkan keseluruhan” (State by State winner takes all) di mana setiap Negara Bagian menetapkan sejumlah pemilih ke dalam Electoral College kami dan kandidat yang memenangkan suara populer di setiap Negara Bagian membawa 100% suara para pemilih ke Electoral College,” kata Rozell.

“Dan itulah mengapa secara matematis, adalah mungkin bagi seseorang untuk memenangkan suara populer tetapi kehilangan kursi kepresidenan.”

Rozell mencontohkan pemilihan presiden 2016 di mana Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat meski mendapatkan suara 3 juta lebih sedikit dari saingannya, Hillary Clinton. Namun, Hillary kalah dalam Electoral College dari Trump.

“Hillary Clinton memenangkan mayoritas rakyat yang sangat besar di beberapa negara bagian berpenduduk besar seperti California, Anda hanya perlu memenangkan satu Negara Bagian dengan selisih satu suara untuk memenangkan seratus persen pemilihnya, margin tidak menjadi masalah,” jelasnya.

“Donald Trump memenangkan lebih banyak negara bagian dengan margin yang lebih kecil, oleh karena itu dia mendapatkan mayoritas Electoral College.”

Terdapat 538 pemilih di Electoral College dan salah satu calon perlu mendapatkan 270 untuk mendapatkan mayoritas dan menjadi Presiden Amerika Serikat.

Ada kemungkinan tidak ada calon yang mendapatkan mayoritas, misalnya jika ada calon independen ketiga yang mendapatkan suara Electoral College, tetapi kasus tersebut sangat jarang terjadi. Jika itu terjadi pemilihan kemudian diserahkan pada DPR yang mengambil suara di antara tiga kandidat dengan suara terbanyak, menentukan siapa yang akan menjadi presiden. Menurut Rozell, kasus seperti ini terakhir kali terjadi pada abad ke-19.

Swing States

Sistem Electoral College ini membuat para kandidat berlomba-lomba mendapatkan suara mayoritas di negara bagian.

Beberapa negara bagian memiliki populasi yang sangat condong ke salah satu partai politik, baik Partai Demokrat mau pun Partai Republik. Negara-negara bagian inilah yang dikenal sebagai “blue states” dan “red states” (negara bagian biru dan negara bagian merah), merujuk pada warna yang identik dengan masing-masing partai, biru untuk Partai Demokrat dan merah untuk Partai Republik.

Di negara-negara bagian tersebut, hasil pemungutan suara biasanya sudah dapat diketahui, dan hampir pasti. Misalnya California, New York, dan Maryland, yang merupakan negara bagian biru, calon presiden Partai Demokrat, Joe Biden sudah hampir dipastikan menang, sementara North Carolina, Indiana, dan sebagian negara bagian di selatan dianggap sebagai negara bagian merah, di mana Trump, seorang Republikan, diyakini akan unggul.

Biasanya, para calon presiden biasanya tidak akan terlalu mencurahkan sumber dayanya untuk berkampanye di negara-negara bagian ini karena hasil pemungutan suara hampir tidak mungkin diubah.

Di luar kedua pembagian ini, ada negara bagian yang tidak memiliki kecenderungan tersebut, dan tidak ada satu partai yang dominan. Negara-negara bagian inilah yang disebut sebagai “white states” (negara bagian putih) atau “swing states” (negara bagian berayun). Wilayah-wilayah inilah yang diperebutkan kedua calon presiden.

Swing states sangat berpengaruh pada Electoral College dan bisa menjadi penentu kalah menangnya seorang calon presiden. Beberapa negara bagian yang dianggap swing states dalam pilpres AS adalah adalah Colorado, Florida, Iowa, Michigan, Nevada, New Hampshire, Pennsylvania, Ohio, Wisconsin dan Virginia.

Sebagai contoh, pada 2016, Hillary Clinton diperkirakan memiliki 257 Electoral College dari negara-negara bagian biru, dan hanya membutuhkan 13 Electoral College lagi untuk menjadi Presiden AS. Namun, dia gagal mengamankan suara di Wisconsin, Pennsylvania, dan Michigan yang dimenangi Trump.

Pada pemilihan presiden tahun ini, baik Trump dan Biden dipastikan akan berupaya keras untuk mengambil suara dari swing states dan mengamankan kemenangan mereka.

Pemungutan suara pemilihan presiden akan berlangsung pada 3 November 2020. Sejauh ini Joe Biden unggul dalam jajak pendapat, namun, sistem Electoral College bisa membuat keunggulan itu tidak berarti apa-apa, seperti yang terjadi pada 2016.

Kedua kandidat akan bertemu dalam debat calon presiden pertama pada 29 September 2020 untuk menyampaikan visi mereka dan menarik dukungan dari para pemilih.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini