WASHINGTON DC – Dua hari setelah Hari Pemilihan, Amerika Serikat (AS) belum mengetahui siapa yang akan memimpin sebagai presiden untuk empat tahun ke depan. Negara-negara sekutu dan musuh Amerika mengomentari situasi tersebut.
Dua hari setelah pemilihan presiden Amerika, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan era "hegemoni Barat telah berakhir". Dalam kunjungan ke Venezuela Kamis (5/11/2020), Zarif sebaliknya memuji Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang menolak kampanye yang dikoordinasi Amerika untuk menggulingkannya.
BACA JUGA: Ayahnya Tertinggal dari Biden, Donald Trump Jr Serukan Perang Total
Iran percaya pemerintah Amerika tidak lagi bisa "mengontrol apa yang terjadi di dunia" atau menunjukkan kepada negara-negara lain cara melindungi hak-hak warga, cetus Zarif.
Sementara Maduro, yang mengatakan bahwa dia mengikuti jalannya proses pemilu di Amerika menambahkan, “Kami tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Amerika, karena kami selalu menolak dan mengutuk keinginan Amerika untuk memberi pelajaran demokrasi."
Iran telah menjadi sekutu utama Maduro karena pemerintahan otoriternya berhasil melewati sanksi keuangan yang melumpuhkan dan isolasi internasional. Sebaliknya Maduro, yang dihadapkan pada runtuhnya industri minyak, beralih ke Iran untuk membeli bahan bakar guna memasok kebutuhan rakyatnya.
Di Iran, Presiden Hassan Rouhani mengatakan, siapa saja yang menjadi presiden Amerika berikutnya, ia harus lunak kepada Iran. Ia menambahkan, Trump, "dengan kejam meningkatkan sanksi bahkan semasa pandemi virus corona."
BACA JUGA: Trump: Ada Banyak Bukti Kecurangan dalam Pilpres AS
"Mereka tidak berkomitmen pada prinsip apa pun. Tidak pada prinsip kemanusiaan, tidak pada HAM, dan juga tidak pada hukum dan aturan internasional," kata Rouhani sebagaimana dilansir VOA.
Di Moskow, Juru Bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov, pada Kamis mengatakan ketidakpastian dalam politik Amerika akan menuai konsekuensi negatif pada urusan dunia dan memengaruhi ekonomi global.