JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai ada aroma bursa pencalonan Kapolri dalam pencopotan Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi.
Sebagaimana diketahui keduanya dicopot dari jabatannya oleh Kapolri Jenderal Idham Azis lantaran dinilai telah mengabaikan protokol kesehatan terkait kerumunan yang dibuat oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
"IPW melihat kasus pencopotan kedua kapolda syarat nuansa politis, terutama berkaitan dengan bursa calon Kapolri dimana Kapolda metro disebut sebut sebagai salah satu calon dari 'Geng Solo'," kata Neta kepada Okezone, Rabu (18/11/2020).
Baca juga:
Pilkada 2020, Kapolri: Tidak Ada Tawar-menawar Urusan Netralitas!
Selayang Pandang Fadil Imran: Jenderal Pembongkar Dugaan Skandal Chat Mesum Habib Rizieq
Neta mempertanyakan peran Kapolri Idham Azis, yang justru tidak segera mengambil tindakan sejak kepulangan Rizieq Shihab yang dihadiri ribuan massa pendukungnya.
Akibatnya setelah kerumunan tersebut massa Rizieq Shihab kembali menggelar kegiatan yang lagi-lagi mengundang kerumunan massa ribuan di kawasan Petamburan, dan Bogor.
"Apakah pembiaran kerumunan massa yang dilakukan Rizieq ini berkaitan dengan isu bahwa kepulangan Rizieq itu atas bantuan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sehingga banyak pihak takut dan terjadi penguatan "Geng Makassar" dalam kasus Rizieq," ungkapnya.
"Akibatnya yang dikorbankan adalah Kapolda Metro Jaya sebagai bagian dari "Geng Solo". Dalam kasus pencopotan dua kapolda pasca 'teriaknya' Jokowi dalam kasus kerumunan massa Rizieq," tambah Neta.