''Dari 13 gempa itu 6 diantaranya dirasakan masyarakat setempat,'' jelas Litman.
Dilihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, lanjut Litman, gempa di Kabupaten Rejang Lebong merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Ketahun. Gempa itu, kata Litman, dirasakan masyarakat setempat dengan skala intensitas II MMI.
Litman mengimbau, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
''Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa tersebut,'' jelas Litman.
Bentuk Tim Siaga Bencana
Daerah Pantai Barat Provinsi Bengkulu, memiliki risiko bencana alam gempa bumi disusul dengan gelombang tsunami cukup tinggi. Di mana wilayah ini berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust di Samudera Hindia.
Sebagai langkah antisipasi dan mitigsi bencana, kata Litman, BMKG selalu memberikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang cepat dan akurat.
Di mana peringatan dini tsunami yang disebarluaskan BMKG, terang Litman, akan diterima oleh pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat melalui beragam moda diseminasi. Mulai dari Warning Receiver System (WRS), aplikasi android WRS mobile dan Info BMKG, SMS, Email, Fax, Website, dan media Sosial.
Hal tersebut, sampai Litman, dalam rangka upaya mitigasi bencana tsunami yang bertujuan untuk memperkecil risiko bencana yang mungkin terjadi.
''Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami dari BMKG, pemasangan sirene tsunami, penyiapan jalur dan rambu evakuasi, serta membangun tempat evakuasi sementara,'' sampai Litman.
Selain itu, sambung Litman, akan dibentuknya Tim Siaga Bencana di Kelurahan Penurunan, Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu, dengan melibatkan masyarakat yang mampu dan aktif sebagai pengerak dalam penanggulangan bencana tsunami.
(Khafid Mardiyansyah)