Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KALEIDOSKOP 2020: Drama dan Kontroversi Pilpres AS 2020

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 27 Desember 2020 |06:30 WIB
KALEIDOSKOP 2020: Drama dan Kontroversi Pilpres AS 2020
Pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden dan Kamala Harris. (Foto: Reuters)
A
A
A

DRAMA dan kontroversi mengiringi kemenangan Joseph Robinette Biden Jr. atau Joe Biden, atas petahana Donald Trump, dalam sebuah pemilihan ketat yang memecah publik AS, di tengah pandemi virus corona yang sangat memukul negara itu.

Meski sejak awal difavoritkan karena rekam jejaknya yang gemilang, perjalanan Biden ke Gedung Putih tidak dapat dikatakan mulus. Ini merupakan kali ketiga pria berusia 78 tahun itu mencalonkan diri untuk memimpin negara adidaya tersebut.

BACA JUGA: Electoral College Resmi Tetapkan Kemenangan Biden di Pilpres AS 2020

Tidak seperti Trump yang melenggang tanpa saingan sebagai calon tunggal dari Partai Republik, Biden harus berhadapan dengan sejumlah kandidat dari Partai Demokrat, termasuk politisi senior Bernie Sanders dan para politikus muda seperti Pete Buttigieg, Tulsi Gabbard, dan Kamala Harris.

Sempat terseok di awal dengan hasil mengecewakan di dua pemilihan pendahuluan (primary) awal, Biden kemudian meraih kemenangan berturut-turut di tiga negara bagian Florida, Illinois, dan Arizona, menjadikannya kembali menjadi kandidat favorit.

Foto: Reuters.

Pandemi virus corona yang masuk ke AS pada Maret 2020, membuat persaingan terhambat, dengan banyak calon tidak dapat melanjutkan kampanye mereka. Pada April 2020, saingan terberat Biden, Bernie Sanders mengumumkan mundur dari pencalonan, mendorong Biden melenggang ke Konvensi Nasional pada Agustus 2020 di mana dia diumumkan sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.

Sejumlah peristiwa besar terjadi selama masa kampanye, yang tidak diragukan memberi pengaruh besar pada jalannya pemilihan presiden AS kali ini.

BACA JUGA: Menolak Hasil Pilpres, Pendukung Donald Trump Unjuk Rasa di Seluruh AS

Pandemi virus corona yang telah berlangsung di AS sejak Maret telah memukul kehidupan sosial, perekonomian, dan kesehatan negara itu, selain juga menyebabkan angka kematian yang tinggi. Pandemi berdampak besar pada popularitas Presiden Donald Trump yang oleh banyak warga AS dianggap tak becus menangani krisis ini, meski dia beranggapan sebaliknya.

Trump yang terus menyalahkan China terkait menyebarnya pandemi dianggap lamban bertindak, terutama setelah diketahui bahwa informasi mengenai virus SARS CoV-2, yang menyebabkan Covid-19 telah diterima sejak Februari 2020.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement