Lebih dari 100 Orang Ditangkap Setelah Protes Kematian Pria Kulit Hitam di Tahanan

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 15 Januari 2021 06:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 15 18 2344743 lebih-dari-100-orang-ditangkap-setelah-protes-kematian-pria-kulit-hitam-di-tahanan-8o5wsA6C1r.jpg Foto: CNN

BRUSSEL - Lebih dari seratus orang ditangkap di Brussel pada Rabu (13/1) malam setelah protes kekerasan atas kematian seorang pria kulit hitam dalam tahanan polisi.

Kantor kejaksaan Brussel, mengatakan pihaknya telah membuka penyelidikan atas pembunuhan tidak disengaja setelah seorang pria kulit hitam berusia 23 tahun pingsan di sebuah kantor polisi tak lama setelah ditangkap. Dia kemudian meninggal di rumah sakit.

Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di alun-alun Liedts di pusat kota Brussel. Video dari tempat kejadian menunjukkan bentrokan terjadi saat demonstran melemparkan batu dan proyektil sementara polisi mengerahkan meriam air.

Beberapa demonstran membawa tanda Black Lives Matter dan berteriak, “Kami menginginkan kebenaran”.

Mobil Raja Philippe Belgia dikabarkan “terjebak” di dekat bentrokan itu. Kendaraan Raja pun sempat terkena beberapa proyektil yang dilemparkan ke petugas polisi yang mengelilingi konvoi Raja.

Istana menegakan Raja bukanlah target dan keamanannya tidak pernah terancam.

(Baca juga: Paus Fransiskus Disuntik Vaksin Covid-19)

Protes di Brussel sebagian besar berlangsung damai, sebelum akhirnya terjadi bentrokan dan kekerasan di malam hari.

Menurut pernyataan jaksa penuntut, pria yang diidentifikasi sebagai Ibrahima B. oleh pengacara yang mewakili keluarganya, diketahui melarikan diri dengan berjalan kaki dan dibawa polisi untuk diinterogasi.

(Baca juga: Perusahaan Makanan Hewan AS Tarik Produknya Setelah 70 Anjing Mati)

“Saat tiba di kantor polisi, IB hilang kesadaran dan petugas polisi yang hadir menelepon layanan darurat. Sebuah ambulans dan tim darurat tiba di lokasi dan IB dibawa ke rumah sakit. Dia meninggal di rumah sakit pada pukul 20.22,” terang pernyataan itu, dikutip CNN.

“Saya tahu satu hal - jika itu adalah putra saya, yang berkulit putih dan seusia, itu tidak akan terjadi,” ujar pengacara keluarga Alexis Deswaef mengatakan kepada televisi Belgia.

Deswaef mengatakan kepada CNN keluarga tersebut diberitahu bahwa putra mereka memiliki kelainan jantung tetapi ini bukan satu-satunya penyebab kematian.

Tes toksikologi menunjukkan jejak narkotika tapi ini tidak akan menjelaskan kematian.

Menanggapi protes tersebut, Komisaris Jenderal Polisi Federal Marc De Mesmaeker mengatakan pihaknya bisa memahami emosi dan kekecewaan mereka.

“Kami dapat memahami bahwa emosi semakin tinggi ... tetapi cara melakukannya sama sekali tidak dapat diterima,” terangnya.

Dia menuduh pengunjuk rasa melakukan tindakan vandalisme dan mengatakan lima petugas polisi terluka dalam kerusuhan itu.

Menteri Kehakiman Belgia Vincent Van Quickenborne juga mengatakan hal itu tidak bisa diterima.

“Kami tidak dapat dengan cara apapun menerima apa yang terjadi hari ini ... Para perusuh tidak akan lolos dengan impunitas,” cuitnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini